Syarif Abdurrahman sebagai pemimpin keluarga al-Qadri perlu mendengar pendapat dari ulama yang menjadi saudara iparnya untuk memutuskan hijrah ke negeri baru. Pada gilirannya, berdasarkan mufakat di tengah keluarga, Sayid Syarif Hamid turut memimpin kepindahan keluarga al-Qadri keluar Mempawah.
Tahun 1771 M, satu kapal besar dan 14 kapal penjajah menyusuri lautan Pantai Barat Kalimantan, berlanjut memasuki Sungai Kapuas Kecil. Di suatu petang hari, mereka sampai di Pulau Pontianak. Sayid Syarif Hamid ba Abud adalah salah satu ulama yang turut hadir dalam rangkaian peristiwa tersebut.
Mereka selama lima hari berjihad memantapkan diri memilih Pontianak. Pada akhirnya, pulau tersebut dipilih untuk dijadikan negeri. Mereka dengan segera membuka hutan dan membuat rumah besar untuk memulai kehidupan baru.
Sayid Syarif Hamid ketika Syarif Abdurrahman al-Qadri memimpin negeri, terlibat di dalam tata kelola pemerintahan, terutama terkait dengan kapasitasnya sebagai ulama. Namun, pada 22 Rajab 1213 H ulama generasi pertama Pontianak itu kembali ke sisi-Nya.
Pada zamannya, kawasan Batu Layang di Kecamatan Pontianak Utara belum menjadi komplek pemakaman, sehingga jasad dimakamkan di Kampung Melayu Laut. Sultan Pontianak membangunkan untuknya sebuah makam cukup megah, berdampingan dengan istrinya. "Makam itu kini kita pugar dan memberikan tempat terbaik sebagai ulama besar di zamannya," tutup Riza.
(Fiddy Anggriawan )