Satu Lagi Situs Sejarah Kota Pontianak Terungkap

Ade Putra, Jurnalis
Senin 03 April 2017 06:00 WIB
Makam Sayid Syarif Hamid bin Amhad ba Adud (Foto: Istimewa)
Share :

SATU lagi situs sejarah Kota Pontianak, Kalimantan Barat terungkap. Seorang peneliti dari Lembaga Rabithah Alawiyah Pontianak, Abu Bakar Husin, berhasil mengurai asal-usul sebuah makam tua di Gang Sampit, Jalan Tanjungpura, Kelurahan Kampung Melayu Laut, Kecamatan Pontianak Selatan. Makam itu adalah makam ulama besar bernama Sayid Syarif Hamid bin Ahmad ba Abud.

Menurut Abu Bakar, warga setempat hanya mengetahui kalau makam tersebut adalah makam keramat. Mereka tidak tahu siapa yang dikuburkan di situ. Dan, warga setempat juga menyebut makam itu dengan sebutan makam To’ Tanggok. To' artinya datuk atau kakek atau orang yang dituakan. Sementara tanggok adalah mengambil.

Ini, lanjut Abu Bakar, dilatarbelakangi oleh kebiasaan anak-anak mengambil uang recehan di makam buat jajan. "Jadi, orang yang berziarah ke makam itu sering menyimpan uang. Nah, biasanya anak-anak datang menanggok di situ," ulasnya kemarin.

Dari masa ke masa, jelas Abu Bakar, makam tua itu tetap terpelihara dengan baik. Makam diberi atap rumahan yang ditopang empat pilar kayu. Satu jalan dari bahan batu dibuat khusus untuk akses menuju makam. Namun, akibat termakan zaman, makam tersebut akhirnya dibangunkan sebuah cungkup dari tembok semen.

Masyarakat meyakini bahwa makam Sayid Syarif Hamid ba Abud adalah makam orang keramat. Keyakinan tersebut dirasakan masyarakat sekitarnya, hingga shahibul makam sering dijadikan sebagai washilah.

Pengurus Lembaga Rabithah Alawiyah Pontianak Ali Riza Haddad mengatakan pihaknya secara swadaya berinisiatif memugar makam tersebut lantaran kondisinya yang sudah rusak. "Ini murni swadaya dari kita sebagai penghormatan terhadap seorang ulama besar," katanya.

Menurut Ali Riza, pemugaran makam mulai dilakukan pada Rabu 22 Maret 2017 dengan mengganti sejumlah bagian bangunan yang sudah rusak. "Maklum, makam ini sudah ada sejak 30 Desember 1798 Masehi. Wajar kalau perlu peremajaan. Namun bahan yang terbuat dari kayu jenis belian dengan kondisi masih bagus akan tetap dipertahankan. Ini situs sejarah," ucapnya.

Hasil penelusuran silsilah keluarga, terungkap bahwa Sayid Syarif Hamid adalah seorang ulama kelahiran Kota Tarim, Hadramaut. Di usia muda, Sayid Syarif Hamid telah meninggalkan tanah Hadramaut mengembara ke jazirah Timur Jauh, hingga sampai Pantai Barat Kalimantan.

Pada suatu masanya, Sayid Syarif Hamid dinikahkan oleh Habib Husin dengan anak bungsunya, bernama Syarifah Nur al-Qadrie. Di dalam ikatan pernikahan itu, mereka dikarunia dua anak bernama Pangeran Syarif Syaikh dan Syarifah Fathimah.

Sayid Syarif Hamid sepeninggal Tuan Besar Mempawah (sekarang menjadi nama kabupaten Mempawah) memiliki peran penting di tengah keluarga al-Qadri, hingga tercatat dalam sejarah tentang keterlibatannya dalam perencanaan pembangunan negeri baru, bernama Pontianak.

Syarif Abdurrahman sebagai pemimpin keluarga al-Qadri perlu mendengar pendapat dari ulama yang menjadi saudara iparnya untuk memutuskan hijrah ke negeri baru. Pada gilirannya, berdasarkan mufakat di tengah keluarga, Sayid Syarif Hamid turut memimpin kepindahan keluarga al-Qadri keluar Mempawah.

Tahun 1771 M, satu kapal besar dan 14 kapal penjajah menyusuri lautan Pantai Barat Kalimantan, berlanjut memasuki Sungai Kapuas Kecil. Di suatu petang hari, mereka sampai di Pulau Pontianak. Sayid Syarif Hamid ba Abud adalah salah satu ulama yang turut hadir dalam rangkaian peristiwa tersebut.

Mereka selama lima hari berjihad memantapkan diri memilih Pontianak. Pada akhirnya, pulau tersebut dipilih untuk dijadikan negeri. Mereka dengan segera membuka hutan dan membuat rumah besar untuk memulai kehidupan baru.

Sayid Syarif Hamid ketika Syarif Abdurrahman al-Qadri memimpin negeri, terlibat di dalam tata kelola pemerintahan, terutama terkait dengan kapasitasnya sebagai ulama. Namun, pada 22 Rajab 1213 H ulama generasi pertama Pontianak itu kembali ke sisi-Nya.

Pada zamannya, kawasan Batu Layang di Kecamatan Pontianak Utara belum menjadi komplek pemakaman, sehingga jasad dimakamkan di Kampung Melayu Laut. Sultan Pontianak membangunkan untuknya sebuah makam cukup megah, berdampingan dengan istrinya. "Makam itu kini kita pugar dan memberikan tempat terbaik sebagai ulama besar di zamannya," tutup Riza.

(Fiddy Anggriawan )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya