SATU lagi situs sejarah Kota Pontianak, Kalimantan Barat terungkap. Seorang peneliti dari Lembaga Rabithah Alawiyah Pontianak, Abu Bakar Husin, berhasil mengurai asal-usul sebuah makam tua di Gang Sampit, Jalan Tanjungpura, Kelurahan Kampung Melayu Laut, Kecamatan Pontianak Selatan. Makam itu adalah makam ulama besar bernama Sayid Syarif Hamid bin Ahmad ba Abud.
Menurut Abu Bakar, warga setempat hanya mengetahui kalau makam tersebut adalah makam keramat. Mereka tidak tahu siapa yang dikuburkan di situ. Dan, warga setempat juga menyebut makam itu dengan sebutan makam To’ Tanggok. To' artinya datuk atau kakek atau orang yang dituakan. Sementara tanggok adalah mengambil.
Ini, lanjut Abu Bakar, dilatarbelakangi oleh kebiasaan anak-anak mengambil uang recehan di makam buat jajan. "Jadi, orang yang berziarah ke makam itu sering menyimpan uang. Nah, biasanya anak-anak datang menanggok di situ," ulasnya kemarin.
Dari masa ke masa, jelas Abu Bakar, makam tua itu tetap terpelihara dengan baik. Makam diberi atap rumahan yang ditopang empat pilar kayu. Satu jalan dari bahan batu dibuat khusus untuk akses menuju makam. Namun, akibat termakan zaman, makam tersebut akhirnya dibangunkan sebuah cungkup dari tembok semen.
Masyarakat meyakini bahwa makam Sayid Syarif Hamid ba Abud adalah makam orang keramat. Keyakinan tersebut dirasakan masyarakat sekitarnya, hingga shahibul makam sering dijadikan sebagai washilah.