TIDAK hanya faktor makanan, stres dan olahraga ditengarai sebagai pemicu hipertensi atau tekanan darah tinggi. Sementara olahraga dibutuhkan untuk memastikan kesehatan, penderita hipertensi tetap perlu olahraga, namun dengan memerhatikan beberapa hal.
Orang dengan hipertensi ditandai dengan pemeriksaan tekanan darah yang secara konsisten lebih dari 140/90 mmHg. Dikatakan Ketua Perhimpunan Hipertensi Indonesia, Dr dr Yuda Turana, SpS, olahraga yang benar dapat menurunkan ukuran tekanan darah 6 sampai 8 mmHg.
“Olahraga yang tepat untuk penderita hipertensi adalah olahraga aerobik. Lebih baik jalan ringan 20-30 menit. Dianjurkan juga ada pemanasan dan pendinginan yang dilakukan lebih lama agar tidak ada lonjakan tekanan darah lebih tinggi,” pesannya.
Bagi mereka yang memiliki tekanan darah lebih dari 160/100 mmHg, disarankan dr Yuda agar lebih berhati-hati dan harus mengonsultasikan niat olahraga dengan dokter.
Akan tetapi, bagi mereka yang aman melakukan olahraga, ada panduan untuk menentukan intensitas olahraga dengan denyut nadi maksimal per menit yang aman, agar olahraga tidak memicu tekanan darah tinggi.
Ada rumus untuk mengetahui intensitas olahraga yang bisa dilakukan pasien hipertensi, yaitu 220 dikurangi angka usia. Detak jantung maksimal yang aman untuk olahraga intensitas sedang adalah 50-80 persen dari angka sebelumnya.
“Jadi misal orang usia 70 tahun, 220 dikurang 70 sama dengan 150. Lalu 50-80 persen dari angka 150 berarti antara 90-120 denyut nadi per menit adalah ukuran intensitas olahraga yang aman untuk pasien tersebut,” terangnya.
(Helmi Ade Saputra)