Bebatuan indah itu membentuk motif garis mendatar seolah saling menumpuk satu sama lain. Motif garis-garis itu konon terbentuk karena adanya gerusan air terus menerus selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Siswa-siswi SMK Sakti Gemolong yang sedang mengambil video berlatar belakang air terjun dan sejumlah pemuda penghobi olahraga memancing. Mereka tampak asyik dengan kegiatannya masing-masing.
“Saya dan teman-teman sedang membuat video tentang Kerajaan Singosari. Latar belakangnya ada beberapa, salah satunya Dung Grujug. Lokasinya bagus dan hanya bayar tiket parkir Rp2.000 sudah bisa sepuasnya,” terang Angelina Khusnul Khotimah, 16, siswa SMK Sakti Gemolong kepada solopos.com, pekan lalu.
Pendapat serupa disampaikan Erthon Megantara, 20, pemuda asal Gemolong. Hampir setiap pekan sekali, ia berkunjung untuk sekadar memancing sambil refreshing di Dung Grujug.
“Setiap pulang kuliah, kalau masih ada waktu saya berkunjung ke Dung Grujug. Biasanya Sabtu dan Minggu, dari siang sampai sebelum Maghrib. Ikannya banyak, ada lele, mujair, dan lain sebagainya,” kata dia.
(Amril Amarullah (Okezone))