SEMPAT menjabat sebagai asisten manajer, Mutoni Sultonik, pernah menolak menjadi chef. Dalam pikiran pria asli Tegal, Jawa Tengah ini, dulu, jabatan asisten manajer lebih bergengsi ketimbang harus masak di dapur.
Bahkan, meski diiming-imingi gaji lebih besar, pria yang kini akrab dipanggil Chef Muto itu, bersikukuh tidak mau diangkat sebagai koki restoran milik gitaris Dewa Budjana di Jimbaran, Bali.
"Kan pas diangkat jadi asisten manajer, juga sekaligus diangkat sebagai chef. Tapi aku enggak mau kalau jadi koki, ya aku gengsi dong. Aku bilang, 'Chef itu kotor, kalau aku sekarang (jadi manajer-red) kan ganteng, bersih'," kenang Chef Muto ketika berkunjung ke Kantor Redaksi Okezone, di Gedung HighEnd, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat.
Penunjukkan Muto sebagai asisten manager sekaligus chef di restoran itu bukan tanpa alasan. Setelah tiga tahun bekerja di restoran, kemampuan dan pengalaman Muto dianggap mumpuni untuk memasak hidangan-hidangan yang menjadi menu andalan restoran.
Muto mengatakan, baru satu pekan bekerja saja, ia sudah menguasai beberapa tugas restoran. Mulai dari menjadi pelayan, tukang cuci piring hingga bartender. Apalagi selama tiga tahun, Muto sudah banyak belajar memasak, hingga akhirnya dianggap waktu yang tepat untuk mengangkatnya sebagai seorang koki sungguhan.
"Aku sampai dinasehati, kalau koki itu enak, gajinya besar, ilmunya nambah, dan akan selalu dipakai di mana saja. Sementara kalau jadi asisten manajer ya hanya ada di belakang meja terus. Namanya egonya masih tinggi, lihat chef yang setiap hari belepotan, tetap saja aku nolak," beber bapak satu anak ini.
Hingga akhirnya Muto memutuskan untuk keluar dari restoran tersebut. Namun pekerjaan selanjutnya yang ia peroleh, justru menjadi koki pada restoran jepang. Restoran inilah yang mengawali Muto menjadi koki spesialis tepanyaki atau makanan Jepang yang proses memasaknya menggunakan wajan datar yang lebar.(yac)
(Tuty Ocktaviany)