Sang ayah juga tidak kalah berperan dalam mewujudkan cita-cita Aiko menjadi juru masak seperti sekarang ini. Ayahnya lah yang mengarahkan anak ketiga dari lima bersaudara ini untuk mengambil pendidikan kuliner.
“Dulu sekolah ku ngadat, enggak lancar. Ambil public relation baru setengah jalan udah berhenti, enggak semangat. Terus daftar kuliah di fakultas pertanian, baru daftar sudah mundur lagi. Ayah bingung, nih anak salahnya di mana?,” imbuh Aiko.
Akhirnya, sang ayah mengajak Aiko mengobrol untuk menggali apa yang menjadi minat putri kesayangannya itu. Saat itulah Aiko berani menyampaikan kemauan sebagai seseorang yang suka masak dan berkreativitas dengan bahan makanan dan bumbu-bumbu dapur.
“Akhirnya aku mengambil sekolah kuliner di Jakarta Culinary Centre selama setahun. Tadinya mau sekolah perhotalan tapi kan lama banget ya, empat tahun. Aku tuh maunya sekolah yang sebentar saja untuk mengambil ilmunya lalu selebihnya praktek, belajar di lapangan, cari-cari dan tanya sana-sini,” ujar dia.
Kini, selain rajin membuka YouTube untuk mencari tutorial memasak, Aiko mengaku juga banyak belajar dari para chef senior. Dia belajar dari Chef Degan Septoadji, Chef Vindex Tengker, dan Chef Mutofik Sultoni atau dikenal dengan Chef Muto.
(Fitri Yulianti)