KELUARGA, terutama sang ibunda, berperan sangat besar dalam menumbuhkan rasa cinta memasak dalam diri Chef Aiko. Sang ayah tidak kalah berperan. Dan kini, Chef Aiko makin jago mengulek bumbu masakan.
Chef Aiko mengatakan, meski sang ibu sangat sibuk dengan pekerjaan dan aktivitasnya, ibunya pula yang paling banyak menjejali dirinya dengan cita rasa dan pengetahuan tentang kuliner. Ini terutama kuliner Indonesia.
Wanita bernama lengkap Sarwosri Isra ini dan keempat saudaranya sudah terbiasa dengan makanan Indonesia yang dimasak sendiri, bahkan dengan cara tradisional. "Mama meski sibuk, tapi setiap akhir pekan pasti selalu masak sendiri untuk keluarga. Lidah aku tuh sudah sangat terbiasa dengan makanan Indonesia," kata Aiko menuturkan kembali masa kecilnya kepada Okezone di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Bumbu-bumbu yang diulek sendiri, ayam, atau kepala kambing yang dibakar di kompor galian (menyatu dengan tanah), sudah menjadi hidangan khas di meja makan rumah mereka. Ini juga yang diwariskan ke Aiko sekarang. Aiko lebih dikenal sebagai juru masak yang mengandalkan cobek dan ulekan untuk menghaluskan bumbu-bumbu.
Perempuan berdarah Jepang ini melanjutkan, sedari kecil orangtuangnya tidak pernah melarang dirinya untuk bereksperimen di dapur, asalkan tetap dalam pengawasan pengasuh. Berbekal banyaknya bahan makanan di kulkas, Aiko yang baru duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar saat itu sudah berani membuat mi sendiri tanpa bumbu kemasan. Lalu pada kelas lima sekolah dasar, ia sudah bisa membuat kaldu sendiri dan makanan kecil lainnya.
Keingintahuannya yang besar, membuat dia tidak takut dan risih bertanya kepada orang dewasa apa yang harus dia lakukan untuk membuat makanan yang lezat. "Ide membuat kaldu aku peroleh dari saudara ku yang kebetulan seorang chef yang saat itu baru pulang dari Dubai," ujarnya.
Sang ayah juga tidak kalah berperan dalam mewujudkan cita-cita Aiko menjadi juru masak seperti sekarang ini. Ayahnya lah yang mengarahkan anak ketiga dari lima bersaudara ini untuk mengambil pendidikan kuliner.
“Dulu sekolah ku ngadat, enggak lancar. Ambil public relation baru setengah jalan udah berhenti, enggak semangat. Terus daftar kuliah di fakultas pertanian, baru daftar sudah mundur lagi. Ayah bingung, nih anak salahnya di mana?,” imbuh Aiko.
Akhirnya, sang ayah mengajak Aiko mengobrol untuk menggali apa yang menjadi minat putri kesayangannya itu. Saat itulah Aiko berani menyampaikan kemauan sebagai seseorang yang suka masak dan berkreativitas dengan bahan makanan dan bumbu-bumbu dapur.
“Akhirnya aku mengambil sekolah kuliner di Jakarta Culinary Centre selama setahun. Tadinya mau sekolah perhotalan tapi kan lama banget ya, empat tahun. Aku tuh maunya sekolah yang sebentar saja untuk mengambil ilmunya lalu selebihnya praktek, belajar di lapangan, cari-cari dan tanya sana-sini,” ujar dia.
Kini, selain rajin membuka YouTube untuk mencari tutorial memasak, Aiko mengaku juga banyak belajar dari para chef senior. Dia belajar dari Chef Degan Septoadji, Chef Vindex Tengker, dan Chef Mutofik Sultoni atau dikenal dengan Chef Muto.
(Fitri Yulianti)