Pemeriksaan HER2, Rekomendasi Baru Terapi Kanker Payudara

SINDO, Jurnalis
Jum'at 15 Juni 2012 12:06 WIB
Wanita cek kesehatan (Foto: Corbis)
Share :

KANKER  payudara (breast cancer) masih menjadi momok menakutkan bagi wanita. Selain kemoterapi, pemeriksaan HER2 bisa menjadi rekomendasi baru untuk menaklukkan penyakit ini.

Kanker yang satu ini sepertinya masih terus membayangi kaum hawa. Bagaimana tidak, menurut catatan Badan Kesehatan Dunia (WHO), kanker payudara menempati urutan kedua sebagai kanker tersering menjangkiti wanita di dunia. Sekitar 8–9% wanita akan mengalami kanker payudara dalam hidupnya. Hingga kini berbagai teknologi dan cara pengobatan terus berkembang.

Dr Betty Hernowo SpPA dari Ikatan Ahli Patologi Anatomi Indonesia (IAPI) mengatakan, keakurasian pemeriksaan dan analisis akan berhubungan erat dengan terapi yang dianjurkan dokter kepada pasien. ”Diagnosis yang tepat akan sangat memengaruhi keberhasilan terapi kanker payudara,” kata dia.

Selama ini pengobatan dilakukan melalui pembedahan, kemoterapi, terapi hormon, terapi radiasi, dan yang terbaru adalah terapi antibodi monoklonal. Pengobatan ini ditujukan untuk memusnahkan kanker atau membatasi penyebaran penyakit serta menghilangkan gejalanya.
 
”Keberagaman jenis kanker payudara mengharuskan dilakukan diagnostik rinci sebelum memutuskan terapi yang akan dipakai sehingga sifatnya individual,” ujar dia lagi.

Lebih jauh Betty menjelaskan, agar hasilnya maksimal, ada jenis tes terbaru yang harus dijalani para penderita kanker payudara. Namanya tes gen Human Epidermal Growth Factor Receptor - 2 (HER2) untuk tumor. Pasien dikatakan HER2 positif jika pada tumor ditemukan HER2 dalam jumlah besar. Kanker dengan HER2-positif dikenal sebagai bentuk agresif dari kanker payudara dan memiliki perkiraan perjalanan penyakit yang lebih buruk daripada pasien dengan HER2-negatif. HER2 adalah suatu protein yang diproduksi oleh gen yang potensial menyebabkan kanker.

Protein ini berperan sebagai antena yang menerima sinyal untuk membiaknya sel kanker dengan cepat dan mematikan. Kurang lebih pada 20%–30% perempuan dengan kanker payudara terdapat HER2. Diperkirakan satu dari empat hingga lima pasien dengan kanker payudara tahap akhir memiliki HER2-positif.

Menurut Dr Eddy Herman Tanggo dari Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia (PERABOI), jenis tes HER2 dilakukan pada jenis kanker payudara yang sudah menyebar. Kombinasi antara kemoterapi dan tes HER2 akan menghasilkan perkembangan yang lebih baik bagi pasien. Dia juga mengatakan, sekitar 50% pasien kanker payudara dapat sembuh, baik dengan terapi tambahan maupun terapi adjuvan.
 
”Bagi 50% lainnya, yaitu pasien yang mengalami metastatik (menyebar), pilihan terapi lebih ditujukan untuk meningkatkan angka harapan hidup,” kata dia.

Fokus terapi pada kanker stadium akhir dengan memperpanjang harapan hidup tanpa mengurangi kualitas hidup pasien. Para pasien kanker payudara dengan HER2 positif, trastuzumab diberikan sebagai terapi lini pertama bagi penderita kanker payudara metastatik, dengan kombinasi obat kemoterapi lainnya, seperti docetaxel atau paclitaxel juga pada lini kedua atau lini ketiga sebagai terapi tunggal.

Keberadaan HER2 dihubungkan dengan perjalanan penyakit yang semakin memburuk serta waktu kekambuhan yang lebih cepat pada semua tahap dari perkembangan kanker payudara. Dengan demikian, menjadi hal yang penting bagi para pasien yang telah didiagnosis kanker payudara untuk memeriksakan status HER2 mereka.

Ketua Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia (PERABOI), Dr Sonar Panogoro SpB (K) ONK mengatakan, dalam proses penatalaksanaan kanker payudara, ketepatan diagnosis memiliki peranan krusial karena memengaruhi keberhasilan terapi. Peranan kerja sama dokter dalam tim penanganan kanker salah satunya juga akan mengoptimalkan keberhasilan pengobatan. Melibatkan dokter spesialis bedah dan spesialis patologi anatomi. ”Inilah yang ingin terus kita tingkatkan dan akan dibuatkan standar pengobatannya,” sebutnya dalam media gathering, usai Konferensi Kerja PERABOI di Semarang, akhir pekan lalu.

Menurut Sonar, banyak sekali pasien kanker payudara datang ke dokter saat sudah stadium lanjut. Bukan hanya masalah fasilitas dan kondisi sosial ekonomi yang menjadi kendala mendeteksi dini kasus kanker jenis ini, tetapi juga karena kurangnya informasi yang dimiliki pasien.
 
Penyebab pasti kanker payudara tidak diketahui secara pasti. Meski demikian, riset mengidentifikasi sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko pada individu tertentu. Di antaranya faktor riwayat keluarga yang memiliki penyakit serupa, usia yang semakin bertambah,tidak memiliki anak, kehamilan pertama pada usia 30 tahun ke atas, periode menstruasi yang lebih lama, dan faktor hormonal.

Dari faktor risiko ini, riwayat keluarga serta usia menjadi faktor terpenting.
Para peneliti menemukan bahwa mutasi dua gen, yaitu BRCA1 dan BRCA2 dapat meningkatkan risiko perempuan terkena kanker hingga 85%. Hal yang menarik, faktor genetik hanya berdampak 5%–10% dari terjadinya kanker payudara dan ini menunjukkan bahwa faktor lainnya memegang peranan penting.
 
Sementara itu, pentingnya faktor usia sebagai faktor risiko diperkuat oleh data bahwa 78% kanker payudara terjadi pada pasien yang berusia lebih dari 50 tahun dan hanya 6% pada pasien yang berusia kurang dari 40 tahun.

(Tuty Ocktaviany)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya