BERANGKAT dari kegemarannya menggambar, Deden Siswanto menjadi salah seorang celebrated designer di Ibu Kota. Koleksinya yang bergaya vintage dengan sentuhan folklor pun memberikan warna baru bagi belantika mode Tanah Air.
"Dulu saya suka menggambar, walaupun belum sadar akan mode," ujar Deden. Namun, berangkat dari kegemarannya menggambar itulah, Deden justru menemukan kecintaannya akan mode. Dia pun banyak membuat sketsa pakaian yang kemudian dipertunjukkan kepada teman-temannya.
Siapa yang menduga goresan apik seorang Deden bisa menarik perhatian banyak orang. Deden pun akhirnya memutuskan terjun ke dunia mode dengan mengambil pendidikan mode di Sekolah Modeling dan Fashion Studio Intermodel, Bandung. Kemudian dia bekerja di bidang children wear. Tidak puas, Deden pun kemudian berpindah ke ladies wear, saat dia menemukan kepuasan tersendiri karena bisa mewujudkan apa yang diinginkan konsumen. Pada 2000 setelah meluncurkan lini pribadinya, dia bergabung bersama Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI). Kini Deden menjabat sebagai ketua Badan Perwakilan Daerah (BPD) Bandung.
Rupanya, kendati telah memiliki label sendiri dan diakui menjadi desainer berkelas nasional, Deden masih terus memiliki motivasi yang kuat untuk belajar. Di APPMI, Deden mengakui dirinya belajar untuk memahami berbagai aspek yang berhubungan dengan mode.
"Meskipun sudah menjadi desainer, tapi saya harus terus belajar. Mempelajari keinginan konsumen, pasar, dan tren sehingga tidak stagnan dan terjebak dengan karya sendiri," ujarnya. Sifat Deden yang tidak pernah berhenti belajar itu pun mengantarkannya mengikuti ajang pergelaran Bali Fashion Week pada 2001, saat Deden menjadi salah satu dari 10 desainer pilihan FTV internasional.
Menurut Deden, berkecimpung di industri mode yang penuh konflik selama lebih dari 10 tahun membuatnya paham bahwa untuk menjadi desainer yang baik, seseorang haruslah bisa menempatkan dirinya. "Dari luar, dunia ini memang terlihat glamor. Namun, sebenarnya kami harus tahu menempatkan diri. Seorang desainer harus bisa menunjukkan kualitasnya sehingga dia dikenal karena karyanya, bukan sosoknya," tutur pria yang gemar bergaya preppy ini. "Di sini (industri mode) kita harus bisa jual karya, bukan jual diri," tegasnya.
Menyinggung jabatannya sebagai ketua APPMI Jawa Barat, Deden mengatakan melihat perkembangan industri mode Jawa Barat tidak terlalu jauh dari arus tren mode di Jakarta. "Mungkin karena jaraknya yang tidak terlalu jauh juga, jadi tidak terlalu sulit mengangkat mode Jawa Barat untuk mengejar pusat," katanya.
Kendati begitu, sekali lagi desainer yang terpilih sebagai salah satu Fashion Knights versi Majalah Dewi ini menegaskan bahwa untuk itu, diperlukan keseriusan dalam belajar sehingga desainer-desainer daerah, terutama Jawa Barat, bisa dihargai di mata nasional, bahkan internasional.
"Prestasi tidak semata-mata hadir karena keberuntungan, melainkan karena kita yang berusaha terus belajar agar karya kita bisa lebih dihargai di mata nasional. Apalagi di Indonesia pasar yang berbicara sehingga jika kita tidak mau belajar dan terus stagnan, maka kita akan terjebak selera konsumen dan tidak bisa berkembang," tutur pria yang rancangannya digunakan ikon Jakarta Fashion and Food Festival (JFFF) 2009 Loca Fore ini.
Berbicara mengenai bisnis ritel yang kini banyak digeluti desainer domestik, Deden hanya tersenyum dan berujar singkat. "Saya ingin membenahi diri lebih dulu, masih banyak yang harus saya lakukan," sebutnya. Meskipun begitu, dia tak menampik keinginan menekuni ritel. "Mungkin tahun depan saya akan merilis second line dan masuk ke ritel. Tapi untuk sekarang, saya masih ingin menggarap first line dan lini bridal," lanjutnya.
Menurut Deden, lini bridal memiliki peluang usaha yang bagus. Hal ini dapat dilihat dari beragamnya jenis usia dan masyarakat yang memesan gaun pengantin. Keseriusan Deden menggarap lini tersebut pun bisa terlihat dari agresivitasnya dalam mengikuti berbagai ajang wedding exhibition besar di Bandung maupun Jakarta. Busananya tak melulu berupa gaun-gaun panjang yang beraura retro, namun busana ballgown untuk calon pengantin pun ditampilkan dengan memukau. Sementara untuk cocktail dress dan evening wear rancangannya, Deden berpegang teguh pada garis vintage, folklor, dan glamourous dengan sentuhan futuristik yang dikemas dalam gaya kontemporer ala urban wear.
Ya, Deden Siswanto ternyata memang punya jawaban yang berbeda akan konsep sebuah urban wear. Menurutnya, urban wear tidak harus selalu mengikuti pakem tertentu, namun tetap memiliki ciri khas yang membuat pemakainya terlihat chic dan sophisticated. "Tidak perlu harus futuristis atau kontemporer, vintage pun bisa bergaya urban, yang penting adalah citra yang ditampilkannya," pungkasnya.
(Tuty Ocktaviany)