DESAINER muda ini konsisten pada jalan hidup yang dia pilih. Mendandani perempuan dengan gaun extravagant dan eksentrik.
Usia desainer Windy Chandra masih tergolong muda, 28 tahun. Kariernya di dunia mode pun masih terbilang baru. Namun, hasil rancangannya sudah mulai mendapat tempat di hati para pencinta mode. Gaun extravagant hasil rancangannya menjadi buruan untuk menjadi bintang di sebuah pesta. "Pokoknya, orang yang pakai baju saya hadir di sebuah pesta, she will standing out in the crowd," tutur Windy saat ditemui di ruang kerjanya, beberapa waktu lalu.
Selain piawai merancang busana, Windy juga pintar mengatur strategi bisnis. Hasilnya, usaha yang dirintisnya sudah berhasil membuatnya mandiri. "Sudah dua tahun ini saya mandiri, enggak dibantu orangtua lagi," tutur putra kedua dari pasangan Ronny dan Fani ini.
Langkah awal Windy menapaki dunia mode tidak gampang. Keinginannya sempat ditentang keras oleh orangtuanya. Mereka berpikir, bisnis mode tidak akan menghasilkan sesuatu yang memuaskan. Maklum saja, menjadi desainer disamakan dengan usaha modiste. Windy pun tidak mau gegabah dan nekat. Ia tetap mengikuti saran orangtua untuk mengambil pendidikan di luar mode. Akhirnya bidang desain grafis menjadi pilihannya. Dia pun menimba ilmu tersebut di Sidney, Australia. Kemudian hijrah ke San Francisco, Amerika Serikat, untuk mengambil spesialisasi ke bidang busana.
Bak pepatah Jawa, "alon alon asal kelakon", begitulah hidup dan karier Windy mengalir. Sempat terdampar di jurusan desain grafis, periklanan, ujung-ujungnya tetap ngurusi fashion. Malahan ilmu-ilmu tersebut bisa diterapkan dalam proses pengembangan bisnis dan labelnya kini.
Pulang ke Jakarta sekitar tahun 2004, Windy bertekad untuk membuktikan pada keluarganya bahwa he can makes money di dunia mode. Awalnya dia bekerja dengan desainer Rusly Tjohnardi. Tidak lama, tetapi cukup memberi pengalaman dan pengaruh pada gaya rancangannya.
Pengalaman tersebut dijadikan sebagai bekal untuk membangun label Windy Chandra. Empat tahun sudah dia merintis labelnya sendiri. Usaha yang dilakoninya bukan tanpa hambatan. Mengaku tidak punya jejaringan di dunia mode, tetapi ia memiliki klien yang loyal. Satu datang, kemudian datang lagi membawa saudara dan temannya. Promosi dari mulut ke mulut seperti itu sukses membuat butiknya ramai.
Pernah dia mendapat order 12 busana dalam waktu dua minggu. "Itu nekat banget! Ada yang saya kerjain satu baju dalam satu hari," ungkap penyuka cerita anak Mari Chan ini.
Kini dia pun sudah berani pasang harga. "Padahal dulu awalnya saya sering memberi harga promo," katanya. Harga cukup mahal yang ia patok bukan tanpa alasan. Desain eksklusif dan bahan terbaik adalah jawabannya. Windy tipe desainer yang berani ambil bahan terbaik untuk hasil sempurna.
Bagi seorang Windy, tak ada kata puas dalam berbisnis. Dia percaya bahwa satu hal, "Di atas langit masih ada langit". Tidak ada kata puas, tidak cukup waktu untuk bersombong diri. Meski kini bisnisnya sudah cukup solid, dia sadar betul persaingan di luar sana begitu ketat.
Suksesnya pun tidak lepas dari keterlibatan para krunya. "Ayah saya bilang, dalam bekerja, antara kami dan karyawan jangan ada batasan terlalu lebar. Harus seimbang, ada timbal baliknya," sebutnya.
Sementara pola hubungan dengan klien haruslah saling menguntungkan. Windy mendapat benefit, dan si klien tampil memukau dengan busana rancangan sang desainer muda.
(Tuty Ocktaviany)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari