Chenny Han (Foto: Tuty Ocktaviany/Okezone)
PERJALANAN hidupnya begitu berliku. Namun, Chenny Han berhasil melaluinya dan menjadi sosok penting dalam dunia kecantikan Tanah Air.
Terlahir sebagai anak lelaki, kemudian bermetamorfosis bak kupu-kupu menjadi seorang Miss Universe kaum waria, adalah prolog kisah desainer dan perias Chenny Han. Jalan hidupnya terjal, penuh liku.
Chenny Han kecil lahir sebagai Siu Han Tjong, anak tunggal dari ibu yang penuh kasih dan ayah pemabuk. Dalam buku biografinya, Chenny bertutur, "Apa yang bisa diharapkan dari ayah pemabuk?". Pertengkaran demi pertengkaran menjadi makanan Chenny kecil.
Pergumulan batin bukan semata-mata akibat keadaan keluarga. Bocah lelaki kecil itu harus menjadi pelindung ibunya, sekaligus ikut mencari uang. Namun, di dalam dirinya dia merasa ada jiwa perempuan yang terperangkap. Sepanjang kariernya, Chenny telah melansir beberapa buku paduan make up dan bridal. Di antaranya, Chenny Han Bridal Gowns, Make Up and Hair Do for Brides, dan juga Make up Guidance for Air Brush Make up. Selain itu, dia pun memiliki buku berisi 1001 wajah Chenny dengan berbagai inspirasi. Mulai dari rupa Marilyn Monroe, ala Geisha, ala mafia, ala Britney Spears sampai perempuan berkebaya nan anggun.
"Sebenarnya buku itu lebih menunjukkan eksistensi saya sebagai perias. Saya sendiri bisa mengubah wajah saya menjadi 1001 wajah lain," tutur Chenny di butiknya di kawasan Kebon Kacang.
Perias ini adalah profesi yang "menyelamatkan" Chenny muda dari lembah kelam. Sebagai waria, pasti ada sejarah pencarian diri, di mana dia dan beberapa teman lain terjerumus dalam kesenangan atau prostitusi di Taman Lawang. Bukan pekerjaan sembarang, uangnya besar. Namun, tidak punya masa depan.
Inilah yang dicemaskan Chenny. Apa mungkin dia akan terus menjajakan diri di pinggir jalan sampai tua? Kemudian dia mengambil kursus kecantikan di Pivot Point Puspita Martha. Dari sini mantan penjual kue keliling ini merancang kembali hidupnya. Dia masuk ke salon Monita, dan menjadi penata rambut.
Dari salon ini, Chenny melangkah ke Amerika. Anak Kwitang ini berangkat ke negeri Paman Sam dengan modal kebisaan menata rambut dan untuk hidup! Lima tahun di negeri orang sungguh menjadi masa-masa yang sibuk untuk learning by doing.
"Saya di sana sebagai penata rambut. Di tengah jalan saya bisa make up. Ternyata di sana make up lebih digemari daripada rambut," tuturnya. Dengan jujur Chenny mengakui dirinya kewalahan menangani rambut orang asing. Namun, untuk wajah, tidak ada kesulitan.
"Jujur waktu saya ikut lomba hair world, saya harus menelan pil pahit berupa kekalahan. Alasannya, rambut orang bule itu sulit ditata. Tapi kalau lomba make up, boleh diadu," imbuh pengusaha kelahiran Jakarta, 3 Juli 1963. Benar saja, Chenny Han meraih prestasi dunia untuk lomba make up.
Paras rupawan menjadi modal keikutsertaan Chenny dalam berbagai lomba ratu kecantikan bagi kalangan waria. Sejak kecil, pemilik buku Terus Maju Jangan Mundur, Kisah dan Kiat Sukses Chenny Han Memberi Inspirasi Mereka yang Terbuang, sudah membayangkan dirinya menjadi ratu sejagat.
Kesempatan itu datang. Chenny meraih gelar Miss Universe waria pada 1992, satu tahun setelah kekalahan pertama. Padahal saat itu dirinya PD, kecantikannya lebih mencolok dari kontestan lain. Busananya pun didesain seanggun mungkin untuk kian memancarkan pesonanya. Namun, kemenangan itu baru datang setahun kemudian.
"Jadi, gini-gini gue mantan Miss Universe lho," candanya. Khatam dengan sejumlah kontes, Chenny mulai berpikir untuk merintis bisnis bridal. "Awalnya kan saya perias pengantin. Terus ada satu dua klien yang minta dicarikan baju pengantin. Saya pun tertarik menjadi wedding stylist," ceritanya.
Merintis usaha bridal di Amerika bukan perkara mudah. Sumber daya manusia di sana mahal. Itulah alasannya, dia kembali ke Jakarta. Alasan utama, untuk bersatu kembali dengan ibunya.
Bertempat di salah satu ruang di rumah ibunya, Chenny memulai bisnis bridal dengan delapan baju titipan. "Baju ini saya ambil dari saudara, sesuai selera saja. Lama-lama saya pikir, kok ambil baju orang terus. Saya harus mulai bikin sendiri, meski enggak bisa jahit," ungkapnya.
Tidak bisa menjahit, agak lemah dalam menggambar sketsa, tapi memiliki imajinasi yang indah tentang gaun pengantin. Chenny malu juga, masak jadi desainer, tapi tidak pernah sekolah mode. Akhirnya, tahun 2001 dia kursus di Lembaga Pendidikan Keterampilan Mode Susan Budihardjo.
"Itu pun enggak lulus! Saya ini murid paling bandel, enggak bisa jahit, bawaannya udah males aja lihat jarum. Saya juga enggak bagus kalau gambar, tapi selama tukang jahitku dan klien ngerti, semuanya lancar," imbunya seraya tersenyum.
Chenny banyak belajar dari tukang jahit. Sementara untuk referensi model, Chenny melihat ke kiblat mode seperti Paris dan Hong Kong. Hal yang sangat dia perhatikan dalam merancang busana pengantin adalah kesan the look of brides. "Mau glamor atau simpel asal gaun yang saya ciptakan anggun, memberi kesan the brides," tandas perancang gaun pengantin presenter Indi Barends ini.
(Tuty Ocktaviany)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.