BALI tidak pernah bosan untuk disinggahi para wisatawan. Jika pun bosan mengunjungi Kuta, Sanur, dan Ubud, cobalah beralih ke objek wisata lainnya. Salah satunya Kintamani. Di tempat ini wisatawan akan menemukan sesuatu yang berbeda.
Gumpalan kabut dipadu hawa sejuk bersuhu hingga bisa mencapai 15 derajat celsius siap menyambut begitu memasuki objek wisata yang terletak di jantungnya pulau dewata ini, yaitu Kabupaten Bangli. Di sepanjang perjalanan, wisatawan juga akan disuguhi panorama Gunung Batur lengkap dengan kepundannya berupa Danau Batur.
Jika masih belum puas, janganlah khawatir. Wisatawan masih akan dimanjakan sejumlah objek wisata pendukung seperti Pura Ulun Danu, mata air panas Toyabungkah, hingga menyeberangi danau menuju Trunyan, sebuah desa kuno di tepian Danau Batur. Khusus bagi pegiat sastra, peminat sejarah maupun sekadar pencari inspirasi, bisa juga berkunjung ke tempat yang sering digunakan beristirahat oleh tokoh Pujangga Baru, Sutan Takdir Alisjahbana, di Desa Toyabungkah.
Untuk menuju objek wisata ini, memang harus cukup bersabar. Butuh waktu sekitar dua jam dari Denpasar dengan jarak tempuh sekitar 64 kilometer. Sedangkan dari ibu kota Bangli perlu menempuh perjalanan sekitar 23 kilometer menuju wilayah Kecamatan Kintamani.
Jika ingin mendaki Gunung Batur, bersiaplah untuk begadang atau tidur terlebih dulu menginap di Toyabungkah. Sebab, pendakian ke gunung yang berada di ketinggian 900 meter di atas permukaan laut ini mesti dilakukan pada dini hari. Tujuannya agar bisa sampai di puncak saat fajar sehingga bisa menikmati panorama matahari terbit (sunrise) dari puncak gunung.
Di Toyabungkah tersedia belasan hotel melati dengan fasilitas yang lumayan. Biaya sewa kamarnya lumayan murah, tak lebih dari Rp200.000 per malam dengan kamar yang bisa ditempati dua orang. Bagi yang menginginkan suasana yang alami, bisa juga menyewa tenda dari hotel setempat dan kemudian berkemah di area hotel yang menyediakan lokasi untuk berkemah.
" Hitung-hitung beradaptasi dengan alam terlebih dulu, sebelum naik ke gunung," ujar Matthiew, wisatawan asal Australia yang belum lama ini mendaki Batur bersama tiga rekan dari satu negaranya.
Berdasarkan catatan sejumlah pengusaha hotel di Toyabungkah, tempat dimulainya pendakian, dulu hampir semua wisatawan yang menginap melakukan pendakian ke gunung ini. "Hanya sedikit (lima persen) wisatawan yang tidak mendaki," kata Made Wicaksana, staf Hotel Mutiara di Toyabungkah.
Gunung Batur mempunyai sejumlah keistimewaan yang tak dimiliki banyak gunung lainnya. Konon menurut cerita dalam lontar Bali, gunung ini merupakan puncak dari Gunung Mahameru yang dipindahkan Batara Pasupati untuk dijadikan istana bagi Betari Danuh (Istana Dewi Danau).
Pada waktu tertentu, seluruh umat Hindu dari berbagai daerah di Bali datang ke Batur menghaturkan Suwinih agar kawasan Gunung Batur menjadi daerah yang subur sekaligus untuk mengusir bencana hama di ladang. Sejak dulu, Gunung Batur menjadi pilihan pendakian untuk menikmati indahnya sunrise.
"Kalau langit sedang cerah, dari puncak atau Kaldera Batur, wisatawan bisa menyaksikan Gunung Rinjani di Pulau Lombok. Nah, matahari yang ke langit secara perlahan, seakan menyembul dari balik gunung di Pulau Lombok itu," tutur Jro Wijaya, praktisi pariwisata Gunung Batur yang juga pemandu khusus untuk mendaki Kaldera Batur.
Belakangan banyak pula wisatawan yang melakukan aktivitas tracking di kawasan ini. Tracking mereka lakukan dengan melingkari Danau Batur atau Kaldera Batur. Ini merupakan lokasi pendakian paling baru yang jauh lebih menantang.
Sementara wisata sosial-budaya yang terdapat di kawasan ini adalah Trunyan, sebuah desa kuno di tepian Danau Batur. Meskipun seluruh penduduk Trunyan beragama Hindu seperti umumnya masyarakat Bali, warga Trunyan menyatakan bahwa Hindu yang dipeluknya merupakan Hindu asli warisan kerajaan Majapahit.
Untuk bisa mencapai desa kuno ini, bisa ditempuh dengan jalan darat dari Kintamani. Namun, di sebelah utara Trunyan terdapat kuban, sebuah tempat makam yang hanya bisa dicapai dengan menyeberang danau sekitar 15 menit dari Desa Trunyan. Atau bisa juga dari Kintamani, tentunya dengan waktu yang lebih lama sekitar 30 menit.
Di pemakaman desa ini, setiap warga yang meninggal tidak dikuburkan atau dibakar, melainkan hanya diletakkan di bawah pohon dan diselimuti atau dipagari dengan bambu. Uniknya, meski dibiarkan begitu saja, mayat tidak menebarkan bau busuk karena diserap pohon besar bernama Taru Menyan yang berbau harum. Bagaimana? Tertantang?
(Tuty Ocktaviany)