WANITA rela sakit punggung dan susah tidur untuk mendapatkan ilusi ramping dan sensual karena menggunakan stiletto. Hal ini jelas membuat kaum lelaki mana pun angkat topi.
Pernah menonton film Kinky Boots? Di situ dikisahkan komunitas waria merasa begitu tersiksa dengan desain sepatu milik wanita yang secara anatomi tidak pas dengan kaki pria. Begitu juga dengan ukuran hak, kian menjulang, kian tipis, dan kian seksi.
"Awalnya aku sendiri bingung ngelihat teman pakai sepatu stiletto. Haknya tipis, tapi kok masih bisa jalan," ujar desainer sepatu, Fendy Wong. Rasa penasaran itu kemudian di-manage secara baik oleh Fendy hingga menjadi peluang bisnisnya.
Dalam film "Sex and The City" juga dikisahkah betapa empat sahabat Carrie, Miranda, Charlotte, dan Samantha begitu terobsesi dengan sepatu, khususnya stiletto. Kegilaan wanita akan sepatu atau disebut juga shoefetish, melahirkan "seniman-seniman" sepatu baru dari berbagai penjuru dunia.
Indonesia tidak mau ketinggalan. Meski pasarnya besar, pemainnya masih sedikit. Khususnya yang bermain di ranah hand made ataupun made by order seperti yang dilakukan Fendy. "Kalau aku bisa masuk ke jalur hand made seperti sekarang, itu karena pelangganku kebanyakan memesan sepatu untuk pesta dengan tema tertentu. Pada dasarnya aku pun menyukai gaya kontemporer, unik, dan enggak ada di pasaran. Ekstravaganza," tutur lelaki berusia 28 tahun ini.
Pelanggan yang datang pada Fendy biasanya sudah memiliki konsep atau bahkan buta sama sekali. Setelah berbincang- bincang dengan Fendy, mereka menemukan bentuk yang pas.
Jika mengingat satu nama yang berjasa mengantarkan Fendy masuk ke industri mode, dia adalah Rinaldy A Yunardi, desainer aksesori. "Mungkin karena jodoh ya. Aku mau menikah, lalu ketemu Yung (panggilan akrab Rinaldy, red). Di situ aku dipinjemin aksesori oleh dia. Kemudian dia tahu kalau aku bikin sepatu dan mulai dikenalkan dengan teman-teman desainer lainnya," cerita lelaki asal Medan ini.
Fendy lantas menyeriusi bisnis sepatu sambil terus menjalankan bisnis plastik. Malah boleh dibilang, bisnis plastik ikut membantu mengembangkan bisnis sepatu. Tinggallah Fendy mengasah bakatnya. Secara autodidak dia mempelajari anatomi kaki manusia, teknik membuat sepatu, serta heels dalam bentuk-bentuk yang tidak umum.
Ada satu pasang sepatu karya Fendy yang berwarna emas dengan tinggi hak sampai 20 sentimeter. Solnya tebal tapi masih terasa ringan serta ada fringe-nya. Mungkin terinspirasi dari baju khas negara Thailand.
"Aku memang mengoleksi buku tentang sepatu. Sering juga aku jalan-jalan untuk mencari inspirasi. Seringnya langsung turun ke studio sama orang-orangku. Kami bikin konsep, beli bahan, lalu memadupadankan bahan," ungkapnya.
Uang memungkinkan Fendy memperoleh bahan-bahan berkualitas baik untuk dijadikan sepatu eksperimennya. Tidak jarang pria berzodiak sagitarius ini mengalami kegagalan. Entah karena haknya tidak kokoh hingga membuat pemakainya goyang, atau preposisi hak serta body sepatu yang tidak seimbang.
Kerja terberat lainnya adalah menyinkronkan bentuk ukiran kayu di masing-masing sepatu. Mungkin kedengaran sepele, tapi bagi Fendy hal tersebut tetaplah penting. Sentuhan tangan dan personalitas penting menurut dia.
Tahun 2006, Fendy ikut ambil bagian dalam pergelaran "Bazaar Fashion Concerto". Sepatunya digunakan perancang busana Eddy Betty untuk koleksi Rockin' Heroine yang masyhur itu. Koleksi Rockin' Heroine terdiri atas sejumlah busana bertema fantasi, superwoman, dan "memabukkan" bagi pencinta mode kala itu.
Sejak itulah Fendy mulai sering diajak tampil mendukung pergelaran busana desainer-desainer muda Indonesia. Tercatat, Fendy pernah bekerja sama dengan Didi Budiardjo dan Sebastian Gunawan."Aku berterima kasih banget pada Tuhan karena dijodohkan dengan mereka (para desainer). Teman-teman memberi aku banyak kesempatan," imbuhnya.
Proses sharing konsep dengan sesama orang seni terasa lebih menarik. Fendy memiliki beberapa teman desainer yang karakternya kuat. Ide-ide nyeleneh dalam kesatuan konsep koleksi dan show, membuat dia bergairah.
"Aku lebih memikirkan seni ketimbang prospek bisnis. Kalau rezeki kan sudah ada yang mengatur. Kalau mendesain, pasti lebih menantang," tandas Fendy, seraya tersenyum.
Ya, karier Fendy masih sangat muda. Masih banyak peluang untuk maju. Terlebih pasar Indonesia begitu ramah terhadap hadirnya bentuk-bentuk karya baru. Yang muda boleh berkarya.
(Tuty Ocktaviany)