JAKARTA - Stevia mulai sering digunakan sebagai pengganti gula putih karena dianggap lebih sehat. Pemanis yang berasal dari tanaman Stevia rebaudiana ini memiliki rasa manis yang jauh lebih kuat dibandingkan gula pasir, tetapi kandungan kalorinya sangat rendah atau nyaris nol.
Penggunaan stevia mulai mencuat di media sosial karena adanya produk lokal yang mengandung pemanis buatan. Polemik ini menimbulkan pertanyaan di masyarakat, apa kandungan stevia yang sebenarnya? Benarkah lebih sehat daripada gula puith?
Stevia mengandung senyawa pemanis alami yang disebut glikosida steviol. Menurut Kementerian Kesehatan, senyawa ini dapat memiliki tingkat kemanisan sekitar 100 hingga 300 kali lebih tinggi dibandingkan sukrosa atau gula biasa.
Artinya, seseorang hanya membutuhkan sedikit stevia untuk mendapatkan rasa manis yang setara dengan gula putih. Berbeda dengan gula pasir, pemanis stevia yang telah dimurnikan juga hanya menyumbang sedikit atau bahkan tidak menyumbang kalori dalam jumlah penggunaan yang lazim.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menjelaskan bahwa pemanis berintensitas tinggi seperti glikosida steviol umumnya tidak meningkatkan kadar gula darah seperti gula biasa.
Hal ini membuat stevia menjadi alternatif bagi orang yang ingin mengurangi konsumsi gula tambahan. Penggunaannya juga mengurangi jumlah gula yang ditambahkan ke dalam minuman atau makanan, selama stevia benar-benar menggantikan gula dan bukan sekadar dikonsumsi sebagai tambahan.
Sementara itu, konsumsi gula bebas secara berlebihan perlu dibatasi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan agar asupan gula bebas dikurangi hingga kurang dari 10 persen dari total energi harian. WHO bahkan menyarankan pengurangan hingga di bawah 5 persen untuk memperoleh manfaat kesehatan tambahan.
Namun, WHO menyarankan agar pemanis non-gula atau non-sugar sweeteners (NSS) tidak digunakan sebagai strategi untuk menurunkan berat badan maupun mengurangi risiko penyakit tidak menular.
Jadi, lebih baik memilih stevia atau gula putih? Stevia bisa menjadi pilihan untuk mengurangi kalori dan gula tambahan, terutama jika digunakan sebagai pengganti gula putih. Namun, bukan berarti semakin banyak mengonsumsi stevia akan semakin baik bagi kesehatan.
WHO justru mendorong masyarakat untuk mengurangi tingkat kemanisan dalam pola makan secara keseluruhan. Salah satu caranya dengan membiasakan diri mengonsumsi minuman tanpa pemanis serta memilih makanan yang rasa manisnya berasal dari buah utuh.
Dengan demikian, langkah yang lebih baik bukan sekadar mengganti gula putih dengan stevia, melainkan membatasi kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman terlalu manis.
(Agustina Wulandari )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.