Advertisement
Advertisement

Data Kemenkes Ungkap Baru 20,49 Persen Masyarakat Punya Akses ke Air Minum Layak Konsumsi

Khafid Mardiyansyah , Jurnalis-Senin, 26 Oktober 2026 |21:47 WIB
Data Kemenkes Ungkap Baru 20,49 Persen Masyarakat Punya Akses ke Air Minum Layak Konsumsi
Ilustrasi
A
A
A

JAKARTA – Kualitas dan higienitas air minum menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan keluarga, terutama anak-anak yang masih berada dalam masa pertumbuhan. 

Kontaminasi mikrobiologis dan logam berat yang tidak terlihat secara kasatmata berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, termasuk masalah pencernaan yang dapat memengaruhi penyerapan nutrisi.

Dokter Spesialis Anak Mayapada Hospital Jakarta Timur, dr. Marlina Tanjung, Sp.A, Subsp. Neo (K), mengatakan pemenuhan kebutuhan hidrasi tidak cukup hanya dengan memastikan anak mengonsumsi air dalam jumlah yang memadai. Kebersihan dan higienitas air yang diminum juga perlu menjadi perhatian.

“Hidrasi bukan hanya soal cukup minum, tetapi juga memastikan air yang dikonsumsi bersih dan higienis. Air minum yang tidak terjaga higienitasnya dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan, yang pada anak dapat mengganggu asupan dan penyerapan nutrisi serta berdampak pada proses tumbuh kembang,” ujar Marlina dalam keterangan tertulis, Sabtu (24/10/2026).

Risiko tersebut turut menjadi perhatian dalam kajian Safe Drinking Water and Its Impact on Children’s Growth and Development: A Systematic Review yang diterbitkan dalam International Journal of Environmental Research and Public Health. Kajian tersebut membahas hubungan kualitas air minum dengan kesehatan, asupan nutrisi, serta pertumbuhan dan perkembangan anak.

Kajian itu juga disebut mengaitkan gangguan kesehatan pencernaan dengan peningkatan risiko stunting hingga 4,14 kali lebih tinggi. Namun, angka tersebut perlu dipahami sesuai konteks penelitian yang dirujuk dan tidak dapat digeneralisasi sebagai risiko bagi setiap anak tanpa melihat karakteristik studi.

Akses air minum layak masih menjadi perhatian

Data Surveilans Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) Kementerian Kesehatan pada 2023, menunjukkan akses masyarakat Indonesia terhadap air minum yang layak dikonsumsi baru mencapai 20,49 persen. Angka ini menyoroti pentingnya peningkatan akses sekaligus pemahaman masyarakat mengenai kualitas air minum.

Nutrition Design & Hydration Science Research and Innovation AQUA, dr. Tria Rosemiarti, Dipl in Nutrition, MKK, menjelaskan bahwa kualitas air minum tidak dapat dinilai hanya dari kejernihannya. Ada sejumlah faktor yang perlu diperhatikan, mulai dari sumber air, proses pengolahan, higienitas kemasan, pengujian kualitas, penyimpanan, hingga perlindungan produk sebelum dikonsumsi.

“Kita sering kali melihat air hanya dari kejernihannya. Padahal, ada banyak aspek lain yang perlu diperhatikan untuk memastikan kualitas air minum,” kata Tria.

Ia menekankan pentingnya sikap kritis konsumen dalam memeriksa informasi produk, termasuk identitas produsen, label, izin edar, dan kondisi kemasan. Informasi tersebut membantu konsumen memahami asal-usul produk serta memastikan kejelasan pihak yang bertanggung jawab atas kualitasnya.

Tria juga menyoroti aspek keterlacakan produk. Informasi mengenai sumber air, proses pencucian wadah, standar sanitasi, dan pengujian kualitas dapat berbeda-beda, khususnya pada produk yang tidak memiliki identitas produsen yang jelas. Karena itu, konsumen perlu memeriksa informasi produk secara menyeluruh sebelum mengonsumsinya.

Literasi kualitas air perlu dikenalkan sejak dini

Selain akses dan pengawasan kualitas, edukasi mengenai air minum juga dinilai perlu dimulai dari lingkungan keluarga. Anak-anak dapat dilibatkan dalam kebiasaan memeriksa informasi produk dan memahami pentingnya memilih air minum yang higienis.

Ibu Bijak AQUA, Sindy Fung, mengatakan rasa ingin tahu anak dapat dimanfaatkan orang tua untuk membangun literasi mengenai konsumsi sehari-hari.

“Rasa ingin tahu anak sebenarnya bisa menjadi kesempatan bagi orang tua untuk membangun kebiasaan baik. Anak bisa diajak untuk bertanya dari mana air yang diminumnya berasal, melihat label dan kemasannya, sampai memahami mengapa kita harus cermat memilih apa yang dikonsumsi,” ujar Sindy.

Sejalan dengan edukasi tersebut, AQUA memperkenalkan karakter AQILA untuk mengajak anak dan orang tua memahami kualitas air minum melalui pertanyaan sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Hospital Director Mayapada Hospital Jakarta Timur, dr. Dina Hanum, MARS, turut menekankan bahwa pemenuhan hidrasi dan kualitas air minum yang baik merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan keluarga.

Menurut dia, edukasi kesehatan perlu berjalan beriringan dengan pembiasaan hidup sehat serta pendampingan terhadap kebutuhan kesehatan dan tumbuh kembang anak.

Berbagai pandangan tersebut menegaskan bahwa pemilihan air minum perlu mempertimbangkan lebih dari sekadar tampilan fisik. Kejelasan sumber, proses pengolahan, pengujian kualitas, dan higienitas menjadi aspek penting yang perlu dipahami orang tua untuk membantu menjaga kesehatan keluarga.

(Khafid Mardiyansyah)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement