Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

PB IDI Minta Pemerintah Tanggulangi Cepat Karhutla, Ingatkan Dampak Panjang Udara Buruk yang Bisa Picu Kanker

Achmad Al Fiqri , Jurnalis-Sabtu, 24 Oktober 2026 |15:05 WIB
PB IDI Minta Pemerintah Tanggulangi Cepat Karhutla, Ingatkan Dampak Panjang Udara Buruk yang Bisa Picu Kanker
Karhutla. (Foto: BNPB)
A
A
A

JAKARTA – Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) meminta pemerintah segera menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah. Pasalnya, kualitas udara buruk akibat karhutla, dinilai dapat memiliki efek panjang penyakit kanker.

Ketua Umum PB IDl, dr Slamet Budiarto, menilai sudah ada beberapa daerah yang terdeteksi kualitas udaranya buruk. Salah satunya di Palembang, Sumatera Selatan.

"Kalau karhutla itu kita kan bisa mendeteksi kualitas udara melalui internet juga ada itu. Jadi, misalnya saya pantau di daerah Palembang itu di atas 500 (AQI), padahal normalnya harus di bawah 70 kan," ukar Slamet di Sekretariat PB IDI, Jakarta Pusat, Sabtu (24/10/2026).

Induk Piton dan Beberapa Anaknya Mati Terpanggang dalam Karhutla Riau (Foto: Istimewa)

1. Dampak Kualitas Udara Buruk

Menurutnya, pemerintah perlu memberi atensi adanya kualitas udara buruk di sejumlah daerah akibat karhutla. Pasalnya, ia menilai, buruknya kualitas udara bisa memicu gangguan pernapasan, bahkan kanker untuk jangka panjang.

"Nah, ini harus menjadi perhatian pemerintah karena lama-kelamaan kalau udara kita lebih dari normal, maka akan efeknya yang tidak baik untuk masyarakat; bisa sakit, infeksi pernapasan, infeksi paru," kata Slamet.

"Bahkan jangka panjang juga bisa menyebabkan kanker ya, itu jangka panjang. Sehingga secepatnya memang harus ditanggulangi," tambahnya.

 

2. Upaya Preventif Penyakit ISPA

Duh! Pasien Gangguan ISPA di Wilayah Terdampak Karhutla Melonjak!

Di sisi lain, Slamet menilai pemerintah perlu melakukan upaya preventif penyakit ISPA bagi masyarakat. Salah satunya memberikan sosialisasi akan bahaya asap.

"Yang kedua, preventif pencegahan. Jadi, kedepannya memang harus diminimalisir karhutlanya. Pemerintah juga harus menjamin masker untuk masyarakat, terutama untuk anak sekolah yang rentan sakit ya; anak TK, SD, SMP, ya kan SMA, itu harus diberikan masker," ucap Slamet.

"Terus yang ketiga, dokter-dokter kita siap, termasuk faskesnya, rumah sakit ya. Dan saya kira SOP terhadap karhutla itu hampir semua dokter sudah tahu; dokter, perawat, bidan, dan tenaga kesehatan lain. Jadi itu yang perlu kami sampaikan," pungkasnya.

(Djanti Virantika)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement