Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kasus ISPA Meningkat Akibat Karhutla, Kemenkes Prioritaskan Perlindungan terhadap Kelompok Rentan

Niko Prayoga , Jurnalis-Sabtu, 29 Agustus 2026 |15:05 WIB
Kasus ISPA Meningkat Akibat Karhutla, Kemenkes Prioritaskan Perlindungan terhadap Kelompok Rentan
Kebakaran Hutan dan Lahan. (Foto: Freepik)
A
A
A

JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan bahwa jumlah kasus Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di beberapa wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin meningkat. Kemenkes pun prioritaskan perlindungan untuk kelompok rentan.

Dalam keterangan resminya, Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, Agus Jamaludin, mengungkapkan beberapa lonjakan kasus ISPA di antaranya terjadi di Kalimantan Barat dengan jumlah mencapai 165.747 kasus sejak 1 Januari hingga awal Agustus 2026.

Ini Bedanya Batuk Biasa dan ISPA Akibat Asap Karhutla, Dokter Ungkap Gejalanya

Kemudian di Kalimantan Selatan, dilaporkan kasus mencapai 18.423 kasus. Selanjutnya, di Kalimantan Tengah, ISPA mencapai 3.000 kasus hanya dalam rentang 10 hingga 16 Agustus.

1. Arahkan Tenaga Kesehatan Tambahan

Guna menangani kondisi tersebut, Kemenkes mengerahkan 321 tenaga kesehatan tambahan. Hal ini dilakukan guna mengoptimalkan pelayanan medis di puskesmas dan rumah sakit rujukan.

Tidak hanya itu, Kemenkes melalui Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes juga telah mendistribusikan bantuan logistik meliputi 262.000 masker medis dan N95, 119 unit oksigen konsentrator, 40.000 pasang sarung tangan medis, serta 4.900 set Alat Pelindung Diri.

2. Prioritaskan Perlindungan untuk Kelompok Rentan

Lebih lanjut, Kemenkes juga menginstruksikan seluruh fasilitas kesehatan di wilayah terdampak untuk memprioritaskan perlindungan ekstra bagi para kelompok rentan. Di antaranya, ada anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit bawaan (komorbid).

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Then Suyanti, ancaman paparan partikel halus berbahaya atau PM2,5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta senyawa organik beracun yang mampu menembus sistem pernapasan dan peredaran darah tanpa batasan ruang. Hal tersebut tentunya bisa menimbulkan berbagai resiko gangguan kesehatan khususnya kepada kelompok rentan tadi.

“Anak-anak adalah kelompok yang paling berisiko karena paru-paru dan sistem kognitif mereka masih dalam tahap perkembangan. Sementara pada kelompok lansia, paparan polutan ekstrem dapat memperberat Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), memicu gangguan kardiovaskular, peningkatan tekanan darah, gangguan gastrointestinal, hingga iritasi mata dan kulit. Kita harus memberikan perlindungan ekstra kepada kelompok rentan di sekitar kita,” ungkap Then, dikutip Sabtu (29/8/2026).

 

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement