Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Benarkah Vape Nikotin Bisa Mengubah Suara seperti yang Dialami Selena Gomez?

Djanti Virantika , Jurnalis-Kamis, 22 Oktober 2026 |11:52 WIB
Benarkah Vape Nikotin Bisa Mengubah Suara seperti yang Dialami Selena Gomez?
Selena Gomez. (Foto: Instagram/@selenagomez)
A
A
A

4. Apa Kata Penelitian tentang Vape dan Kerusakan Suara?

Vape Perempuan

Artikel ilmiah berjudul Does Vaping Hurt the Voice? menjelaskan bahwa penelitian mengenai pengaruh vaping terhadap suara masih belum memberikan kesimpulan yang pasti. Meski demikian, terdapat alasan biologis untuk mewaspadai dampaknya terhadap laring dan pita suara.

Salah satu penelitian yang dirujuk dalam artikel tersebut adalah studi Salturk dan rekan-rekan yang diterbitkan dalam Journal of Voice pada 2015. Penelitian eksperimental itu mengevaluasi efek sistem penghantaran nikotin elektronik terhadap laring pada hewan.

Penelitian lain yang dirujuk membahas paparan aerosol gliserin dan respons jaringan laring dalam studi eksperimental. Temuan semacam ini menunjukkan bahwa bahan yang tampak relatif aman dalam bentuk cair belum tentu memiliki efek yang sama ketika dipanaskan dan dihirup sebagai aerosol.

Namun, ada batasan penting yang perlu diperhatikan. Perubahan jaringan yang ditemukan dalam penelitian hewan tidak otomatis membuktikan bahwa efek yang sama akan terjadi pada manusia dengan tingkat keparahan yang sama. Temuan itu jadi dasar penelitian lanjutan, bukan bukti vaping pasti sebabkan kanker atau kerusakan pita suara permanen pada manusia.

Sementara itu, dampak merugikan rokok konvensional terhadap laring dan suara telah lebih banyak diteliti. Karena rokok konvensional dan vape sama-sama dapat memaparkan saluran pernapasan pada zat iritan, terdapat alasan untuk meneliti apakah sebagian dampaknya terhadap suara memiliki mekanisme yang serupa.

Meski demikian, keduanya tidak identik. Komposisi paparan, proses pembentukan aerosol, dan pola penggunaannya berbeda sehingga dampaknya tidak dapat disamakan begitu saja.

5. Apakah Vape Bisa Menyebabkan Kerusakan Pita Suara Permanen?

Iritasi ringan pada tenggorokan atau pita suara dapat membaik ketika paparan penyebabnya dihentikan. Akan tetapi, paparan iritan yang berulang dapat memperpanjang peradangan dan berpotensi meningkatkan risiko gangguan suara.

Dalam artikel Does Vaping Hurt the Voice?, sejumlah kemungkinan gangguan laring juga dibahas, termasuk nodul, polip, kista, dan edema Reinke. Nodul dan polip merupakan pertumbuhan jaringan yang dapat muncul pada pita suara, sedangkan kista merupakan kantong berisi materi tertentu di dalam jaringan. Edema Reinke adalah pembengkakan kronis pada lapisan pita suara yang dikenal berkaitan dengan kebiasaan merokok.

Kondisi-kondisi tersebut dapat mengubah getaran pita suara dan mengganggu kualitas suara. Namun, penting untuk menegaskan bahwa artikel tersebut membahas kemungkinan risiko berdasarkan mekanisme iritasi dan bukti yang tersedia, bukan membuktikan bahwa semua gangguan tersebut pasti disebabkan oleh vaping.

Bukti yang tersedia saat ini belum cukup untuk menentukan seberapa besar risiko masing-masing gangguan pada pengguna vape. Oleh sebab itu, klaim bahwa vape pasti menyebabkan kerusakan suara permanen perlu dihindari.

Risiko tersebut tetap patut diperhatikan, terutama bagi penyanyi, aktor, guru, penyiar, dan orang lain yang mengandalkan suara dalam pekerjaan sehari-hari.

6. Apakah Suara Bisa Kembali Normal Setelah Berhenti Vape?

Vape

Berhenti vaping merupakan langkah penting untuk mengurangi paparan aerosol yang berpotensi mengiritasi saluran pernapasan. Jika perubahan suara terutama disebabkan oleh iritasi yang masih dapat pulih, kualitas suara berpotensi membaik setelah paparan dihentikan.

Namun, pemulihan tidak selalu berlangsung dengan kecepatan yang sama. Kondisi pita suara, lamanya paparan, kebiasaan menggunakan suara, serta penyakit yang mendasari dapat memengaruhi proses tersebut.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan suara meliputi menghentikan penggunaan vape dan menghindari paparan asap rokok. Memenuhi kebutuhan cairan agar tubuh tetap terhidrasi.

Mengistirahatkan suara ketika mengalami serak dan menghindari berteriak atau memaksakan suara. Mengupayakan bantuan tenaga kesehatan apabila sulit menghentikan penggunaan nikotin. Memeriksakan diri ke dokter apabila suara serak menetap atau terus memburuk.

Jika suara serak berlangsung lebih dari empat minggu, pemeriksaan laring oleh dokter, terutama dokter spesialis THT-KL, perlu dipertimbangkan. Pemeriksaan lebih cepat diperlukan jika perubahan suara disertai kesulitan bernapas, kesulitan menelan, atau gejala yang mengkhawatirkan.

(Djanti Virantika)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement