
Dislokasi bahu membutuhkan penanganan medis sesegera mungkin. Tujuan utama penanganan adalah mengembalikan posisi tulang, mengendalikan nyeri, serta memeriksa apakah terdapat kerusakan jaringan atau komplikasi lain.
Penanganan umumnya meliputi beberapa tahap. Pertama, mengembalikan posisi sendi. Dokter akan melakukan prosedur reduksi untuk mengembalikan tulang ke posisi normal. Prosedur ini harus dilakukan tenaga medis terlatih, dengan mempertimbangkan kondisi pasien dan kemungkinan cedera lain.
Jangan mencoba menarik atau memasukkan kembali tulang bahu sendiri karena tindakan yang tidak tepat dapat memperburuk kerusakan jaringan, saraf, atau pembuluh darah.
Kedua, pemeriksaan lanjutan. Setelah posisi sendi dikembalikan, dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik dan pencitraan, seperti rontgen atau MRI, sesuai kebutuhan. Pemeriksaan ini membantu mengidentifikasi kemungkinan patah tulang, kerusakan ligamen, cedera tendon, atau gangguan jaringan lain.
Ketiga, mobilisasi dan pengendalian nyeri. Bahu mungkin perlu ditopang menggunakan penyangga atau sling untuk sementara waktu. Lama penggunaannya bergantung pada tingkat cedera, usia, aktivitas, dan rekomendasi dokter.
Keempat, pperasi jika diperlukan. Tidak semua dislokasi bahu memerlukan operasi. Namun, tindakan bedah dapat dipertimbangkan apabila terdapat kerusakan jaringan yang signifikan, ketidakstabilan sendi, atau kondisi lain yang membutuhkan perbaikan struktural.
Dalam kasus Toprak, pemeriksaan lanjutan mengonfirmasi bahwa cedera bahunya membutuhkan tindakan operasi agar peluang pemulihan optimal menjadi lebih besar. Namun, rincian struktur yang mengalami kerusakan tidak dijelaskan secara lengkap dalam pengumuman resmi tim.
Waktu pemulihan dislokasi bahu berbeda-beda, tergantung tingkat kerusakan jaringan, kebutuhan operasi, kondisi fisik, dan jenis aktivitas yang akan kembali dilakukan. Pada kasus yang tidak disertai kerusakan berat, pemulihan fungsi dasar bahu dapat berlangsung dalam beberapa minggu.
Namun, pemulihan kekuatan, stabilitas, dan kemampuan melakukan aktivitas olahraga dengan intensitas tinggi dapat membutuhkan waktu beberapa bulan. Jika diperlukan operasi, proses rehabilitasi biasanya lebih panjang dan mengikuti tahapan yang ditentukan dokter serta fisioterapis.
Secara umum, proses pemulihan dapat mencakup, fase awal, yakni melindungi sendi, mengendalikan nyeri dan pembengkakan, serta mengikuti petunjuk penggunaan penyangga. Lalu, ada fase pemulihan gerak yakni mengembalikan rentang gerak secara bertahap melalui latihan yang direkomendasikan tenaga kesehatan.
Selanjutnya, masuk fase penguatan lewat melatih otot rotator cuff dan otot di sekitar tulang belikat untuk meningkatkan kekuatan serta stabilitas bahu. Terakhir, fase kembali beraktivitas, yakni meningkatkan latihan fungsional secara bertahap sebelum kembali melakukan olahraga dengan intensitas tinggi.
Pembalap profesional membutuhkan tahapan tambahan untuk memastikan bahu mampu menahan beban saat pengereman, perubahan arah, dan manuver berkecepatan tinggi. Karena itu, keputusan kembali balapan tidak hanya ditentukan oleh hilangnya rasa sakit, tetapi juga oleh pemulihan kekuatan, mobilitas, koordinasi, dan stabilitas sendi.
Keputusan Toprak untuk menjalani operasi diambil setelah pemeriksaan medis lanjutan menunjukkan bahwa cedera bahunya lebih serius daripada perkiraan awal. Operasi dijadwalkan pada 26 Oktober 2026 di Milan, Italia.
Keputusan tersebut menunjukkan pentingnya pemulihan menyeluruh bagi atlet profesional. Kembali berlomba sebelum bahu benar-benar siap dapat meningkatkan risiko cedera berulang dan menghambat pemulihan jangka panjang.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.