Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Bayi di Bawah 6 Bulan Tak Boleh Konsumsi Makanan selain ASI dan Sufor, Ini Kata Dokter

Niko Prayoga , Jurnalis-Rabu, 14 Oktober 2026 |22:05 WIB
Bayi di Bawah 6 Bulan Tak Boleh Konsumsi Makanan selain ASI dan Sufor, Ini Kata Dokter
Ilustrasi bayi di bawah 6 bulan harus konsumsi ASI atau sufor. (Foto: dok Magnific)
A
A
A

JAKARTA - Kabar meninggalnya Alena, seorang bayi berusia 28 hari saat ini tengah menjadi perhatian banyak pihak. Pasalnya, sebelum meninggal, ia sempat demam tinggi dan diduga diberi telur mentah oleh sang nenek. Padahal bayi yang baru lahir atau dibawah usia enam bulan hanya boleh diberikan asupan ASI dari sang ibu. 

Dokter spesialis anak, dr. Leonirma Tengguna dalam utas di akun Threads miliknya menjelaskan bahwa sistem pencernaan bayi di bawah 6 bulan belum siap mengolah apapun selain ASI. 

“Kenapa bayi baru lahir cuma bisa minum ASI atau susu formula? Soalnya sistem pencernaan bayi di bawah usia 6 bulan (terutama bayi baru lahir) belum siap untuk mengolah makanan padat, cair selain susu, apalagi makanan mentah,” tulis dr. Leonirma, dikutip Rabu (14/10/2026).

Selain itu, ukuran lambung bayi yang baru lahir juga masih sangat kecil dan enzim pencernaan di dalamnya belum sempurna yang membuat daya tahan tubuh masih minim. 

“Lambung masih kecil banget, enzim pencernaan belum sempurna, daya tahan badan masih minim, koordinasi menelan dan bernapas belum rapi. Masukin makanan lain bisa memicu sumbatan usus, infeksi berat, hingga robekan pada saluran cerna yang fatal,” ucapnya.

Bayi Baru Boleh Konsumsi selain ASI dan Sufor di Usia 6 Bulan 

Ia menjelaskan, bayi baru boleh makan selain ASI atau susu formula saat usianya genap masuk enam bulan. Hal itu sesuai dengan panduan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Kementerian Kesehatan RI.

“Makanan Pendamping ASI (MPASI) baru boleh diberikan secara bertahap waktu bayi genap berusia enam bulan. Soalnya di usia ini, refleks menelan makanan padat sudah siap dan tubuh mereka butuh nutrisi tambahan selain ASI atau susu formula,” jelas dr. Leonirma.

Namun, dalam kasus tertentu seperti gagal tumbuh, dokter bisa saja menyarankan MPASI lebih awal paling cepat usia empat bulan dengan catatan telah diperiksa dan dicari penyebabnya. Meski demikian ia menegaskan bahwa hal itu harus berdasarkan keputusan dokter dan bukan oleh keluarga 

“Tapi pada kasus tertentu, misalnya gagal tumbuh (weight faltering), dokter anak bisa mempertimbangkan MPASI lebih awal, paling cepet usia 4 bulan, setelah bayi diperiksa dan penyebabnya dicari dulu. Sekali lagi, ini harus diputuskan oleh dokter, bukan keluarga. Jadi sama sekali bukan untuk bayi baru lahir,” tambahnya.

Lebih lanjut, dr. Leonirma membeberkan bahwa jika bayi dibawah usia enam bulan terlanjur diberikan makanan selain ASI atau susu formula tanpa rekomendasi dokter maka bayi tersebut harus segera dibawa ke dokter. 

Apalagi jika timbul gejala seperti demam tinggi di atas 38 derajat celcius atau badan dingin, lemas dan susah bangun, tidak mau menyusu, muntah dan diare, napas cepat bahkan sesak dan tersedak, kejang serta tangisan melemah dan sembelit. 

Jangan Percaya Mitos

Dokter Leonirma menilai, pemberian makanan selain ASI pada bayi baru lahir atau di bawah usia enam bulan hanyalah mitos belaka. Menurutnya, mitos tersebut masih ada hingga saat ini, karena klaim pengalaman turun temurun yang sering dianggap aman padahal di baliknya menyimpan bahaya. 

“Kenapa sampe sekarang masi banyak yang percaya mitos ini? Soalnya sering ada yang bilang ‘Dulu kamu dikasih pisang/madu/telur juga sehat-sehat aja’. Kenyataannya: bayi yang selamat bukan bukti caranya aman. Banyak yang cuma beruntung, dan kasus buruknya jarang diceritakan. Ilmu semakin berkembang. Kalo dulu orang belum tau, sekarang kita yang tau resikonya jangan sampe lakuin kesalahan turun temurun yang berbahaya,” ungkapnya.

Terakhir, ia pun mengingatkan masyarakat agar berhenti mempercayai mitos tersebut. Ia pun mengungkapkan rasa sedihnya atas kabar yang menimpa seorang bayi yang meninggal akibat diduga diberi makan telur mentah. 

Meski demikian, dr. Leonirma menjelaskan bahwa ungkapan serta penjelasannya ini bukan untuk menyalahkan siapapun atau pihak manapun, namun supaya jadi pelajaran agar hal serupa tidak terulang lagi. 

“Stop percaya mitos kasih makanan apapun ke bayi baru lahir selain ASI (atau susu formula jika ada indikasi medis) supaya bayi sehat, kuat, gemuk dll. Patah hati banget rasanya baca kabar duka tentang bayi baru lahir yang meninggal karena dugaan disuapin telur mentah. Turut berduka cita sedalam-dalamnya untuk keluarga yang ditinggalkan. Aku nulis ini bukan untuk nyalahin siapapun, tapi supaya kejadian serupa ga terulang. Mohon luangin waktu sebentar untuk baca sampai habis,” pungkasnya.

(Agustina Wulandari )

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement