
Bulu tangkis merupakan olahraga dengan gerakan cepat yang melibatkan lengan, pergelangan tangan, bahu, serta perubahan posisi tubuh secara berulang. Pada pemain yang berlatih secara intensif, beban pada otot dan tendon dapat meningkat.
Jika beban latihan lebih besar daripada kemampuan jaringan untuk beradaptasi dan pulih, risiko cedera dapat bertambah. Beberapa faktor yang dapat memicu nyeri siku.
Pertama, gerakan berulang. Pukulan yang dilakukan berkali-kali dapat membebani otot dan tendon lengan bawah.
Kedua, teknik pukulan yang kurang tepat. Gerakan yang tidak efisien dapat membuat beban terkonsentrasi pada bagian tertentu di lengan.
Ketiga, peningkatan intensitas latihan. Penambahan durasi atau intensitas latihan secara mendadak dapat membuat jaringan kesulitan beradaptasi.
Keempat, kekuatan otot yang kurang seimbang. Kekuatan dan koordinasi otot lengan bawah serta bahu turut memengaruhi distribusi beban saat memukul kok.
Kelima, waktu pemulihan yang tidak cukup. Otot dan tendon membutuhkan waktu untuk pulih setelah menerima beban latihan.
Meski demikian, penyebab cedera pada setiap atlet dapat berbeda. Faktor-faktor tersebut merupakan kemungkinan umum, bukan penyebab yang telah dipastikan pada kasus Daniel.

Penanganan cedera siku bergantung pada penyebab, tingkat keparahan, dan kondisi masing-masing atlet. Secara umum, beberapa langkah berikut dapat dipertimbangkan setelah dilakukan penilaian yang sesuai.
Pertama, mengurangi aktivitas yang memicu nyeri. Atlet perlu mengurangi sementara gerakan yang memperburuk keluhan, terutama pukulan atau latihan yang memberikan tekanan pada siku. Memaksakan diri untuk terus bermain ketika nyeri masih tinggi dapat memperburuk gejala dan menghambat pemulihan.
Kedua, melakukan fisioterapi, Fisioterapi dapat membantu memulihkan fungsi lengan melalui latihan penguatan, peregangan, pengaturan beban, dan latihan gerak secara bertahap. Programnya perlu disesuaikan dengan hasil pemeriksaan. Pada gangguan tendon tertentu, latihan penguatan progresif menjadi bagian penting dari proses rehabilitasi.
Ketiga, menggunakan kompres dingin. Kompres dingin yang dibungkus kain dapat membantu meredakan nyeri setelah aktivitas. Hindari menempelkan es secara langsung pada kulit. Kompres bukan pengganti pemeriksaan medis apabila nyeri berat, muncul setelah cedera mendadak, atau disertai pembengkakan yang signifikan.
Keempat, menjalani pemeriksaan medis Jika nyeri tidak membaik, mengganggu aktivitas, atau disertai kelemahan dan keterbatasan gerak, dokter dapat melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Pemeriksaan fisik biasanya menjadi langkah awal. Pemeriksaan pencitraan dapat dipertimbangkan apabila diperlukan untuk menilai kemungkinan cedera tertentu.
Pada atlet profesional, keputusan untuk kembali bertanding sebaiknya mempertimbangkan tingkat nyeri, fungsi siku, kekuatan, dan kemampuan melakukan gerakan olahraga dengan aman.
Pencegahan cedera siku dapat dilakukan melalui pengelolaan latihan dan kebiasaan bermain yang tepat. Lakukan pemanasan sebelum latihan. Persiapkan otot lengan, pergelangan tangan, dan bahu sebelum melakukan pukulan dengan intensitas tinggi.
Perbaiki teknik bermain. Teknik pukulan yang efisien membantu mengurangi beban berlebihan pada siku. Tingkatkan intensitas latihan secara bertahap. Hindari menambah durasi atau beban latihan secara mendadak.
Perkuat otot lengan dan bahu. Latihan yang terencana dapat membantu meningkatkan kemampuan tubuh menghadapi beban olahraga. Berikan waktu pemulihan. Istirahat yang cukup membantu otot dan tendon beradaptasi terhadap latihan.
Jangan abaikan nyeri. Jika rasa sakit muncul berulang atau semakin berat, lakukan evaluasi sebelum kembali menjalani latihan intensif. Pencegahan tidak dapat menjamin cedera sepenuhnya terhindarkan, tetapi dapat membantu mengurangi risiko dan mendukung performa atlet dalam jangka panjang.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.