JAKARTA - Pernahkah kamu melihat gumpalan batu berbentuk seperti gigi yang ada pada amandel seseorang? Pastinya hal tersebut nampak tidak elok dan kurang sedap untuk dipandang.
Kondisi tersebut bernama Tonsillolith atau batu tonsil. Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Adam Prabata menggunakan sumber berjudul “Tonsillolith: Not just a stone but a living biofilm” menjelaskan bahwa Tonsillolith terbentuk dari sisa makanan yang terakumulasi serta mikroorganisme di kripta tonsil.
“Tonsillolith terbentuk dari akumulasi sisa makanan dan mikroorganisme di kripta tonsil yang kemudian mengalami kalsifikasi,” tulis dr. Adam dalam utas di akun Threads miliknya, dikutip Minggu (11/10/2026).
Kondisi itu bisa menyebabkan bau mulut, sensasi asing di tenggorokan, demam bahkan nyeri saat menelan. Apalagi, kondisi bagian di sekitar munculnya batu tonsil akan dipenuhi oleh bakteri dan bisa berkembang menjadi infeksi. Terkait besaran batu tonsil sangat dinamis, bisa saja lebih kecil atau lebih besar tergantung ukuran dan klasifikasinya
“Proses ini dinamis, bisa mengecil atau membesar ukuran batu dan klasifikasinya. Selain itu, di sekitar batu tersebut 'dihuni' oleh bakteri, yang dapat berkembang menjadi infeksi yang lebih berat,” ucapnya.
Sementara itu, melansir dari Cleveland Clinic, ada beberapa gejala yang bakal dirasakan saat seseorang mengalami batu tonsil. Seperti rasa tidak enak di mulut, sakit tenggorokan, batuk, sakit telinga, dan susah menelan.
Faktor risiko dari batu tonsil ini sendiri bisa karena terlalu sering terkena tonsilitis atau infeksi pada amandel yang terus berulang, memiliki lipatan tonsil yang membesar dan dehidrasi.
Meski tak berbahaya, namun batu tonsil berukuran besar bisa menyebabkan pembengkakan hingga membuat sulit menelan bahkan hingga infeksi.
(Agustina Wulandari )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.