Tenis meja menuntut atlet untuk terus bergerak dalam waktu singkat. Selain mengejar bola, mereka harus cepat mengubah posisi dan menjaga keseimbangan untuk menghasilkan pukulan yang tepat.
Gerakan yang dilakukan berulang juga membuat beberapa bagian tubuh mendapat beban cukup besar, terutama bahu, pergelangan tangan, pinggang, dan kaki.
Chief Physiotherapist Physiorehab, Simon Tri Prasetyo, mengatakan program untuk para atlet disesuaikan dengan kebutuhan fisik masing-masing.
“Secara teknis, program Physiorehab yang kami berikan mencakup asesmen kondisi fisik secara berkala, manual therapy untuk mengatasi ketegangan otot dan sendi, hingga program strengthening pada area bahu, pergelangan tangan, dan pinggang yang menjadi titik tumpu utama dalam gerakan tenis meja,” ujarnya.
Latihan mobilitas dan stabilitas juga diberikan untuk mendukung kecepatan footwork atlet ketika bergerak di lapangan.