Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Fenomena Sound Horeg, Benarkah Bikin Tuli hingga Bikin Fungsi Otak Turun?

Agustina Wulandari , Jurnalis-Senin, 21 September 2026 |06:05 WIB
Fenomena Sound Horeg, Benarkah Bikin Tuli hingga Bikin Fungsi Otak Turun?
Ilustrasi sound horeg. (Foto: dok Pinterest)
A
A
A

JAKARTA - Sound horeg adalah fenomena penggunaan sistem pengeras suara (sound system) berukuran sangat besar dengan volume dan dentuman bass yang ekstrem. Horeg sendiri berasal dari kata Jawa yang artinya bergerak atau bergetar. 

Sound horeg biasanya punya tingkat kebisingan sekitar 110 hingga 135 desibel (dB), bahkan melewati batas aman pendengaran manusia versi WHO, yakni 85 dB maupun batas kebisingan lingkungan pemukiman. 

benarkah dengan kebisingan tersebut sound horeg bisa membuat telinga tuli? Bahkan bisa membuat fungsi otak menurun. Prof. Agustino Zulys, guru besar FMIPA UI mengatakan, “Bassnya bukan cuma terdengar duk-duk-duk, kadang sampai dada ikut bergetar.”

“Dalam sains, masalahnya bukan saja iramanya, tetapi berapa desibel suaranya, berapa lama dengarnya, dan berapa sering terpaparnya. Padahal, batas nyaman mendengar suara di bawah 85 desibel. Data WHO merekomendasikan pendengaran yang nyaman pada 80 desibel sekitar 40 jam per minggu,” ujarnya.

Ia menyebut, di dalam telinga ada struktur sangat halus bernama sel rambut koklea. “Jangan bayangkan rambut seperti di kepala ya. Kalau rambut kepala rusak, kita masih bisa ke salon. Kalau sel rambut koklea rusak, sayangnya nggak ada salon koklea. Nah, paparan kebisingan berlebihan bisa merusak sel-sel koklea ini,” kata Prof. Zulys.

Akibatnya dapat terjadi kehilangan pendengaran. Masalahnya, kerusakan berlangsung secara perlahan. Telinga berdengung setelah acara, bukan berarti sound-nya bagus. Prof. Zulys mengingatkan bahwa hal itu justru warning dari tubuh. 

“Literatur menunjukkan, gangguan pendengaran kronis bisa berpotensi penurunan fungsi otak. Mengapa? Karena ketika pendengaran terganggu, otak harus bekerja lebih keras memahami percakapan. Bayangkan, guru menerangkan pelajaran, tetapi setiap tiga kata cuma terdengar satu,” tuturnya.

Namun ia mengungkapkan, belum tentu sound horeg pasti bikin bodoh. Belum ada penelitian primer di Indonesia yang secara spesifik membuktikan sound horeg menyebabkan penurunan fungsi otak. 

“Lalu apa solusinya? Bukan mematikan kreativitas masyarakat, jangan pula menghina pelakunya sebagai SDM rendah. Yang diperlukan adalah sound engineering dan regulasi berbasis sains. Ukur tingkat desibel, batasi durasi, atur jarak speaker dari masyarakat. Sediakan arena istirahat pendengaran dan lindungi terutama anak-anak serta kelompok rentan. Jadi teknologi audio boleh maju, tetapi keselamatan manusia jangan mundur,” ucap Prof. Zulys.

(Agustina Wulandari )

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement