Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Viral Nenek Ini Habiskan Tabungan Rp7 Miliar untuk Perawatan Kecantikan, Bikin Anak Geram!

Kurniasih Miftakhul Jannah , Jurnalis-Kamis, 17 September 2026 |06:05 WIB
Viral Nenek Ini Habiskan Tabungan Rp7 Miliar untuk Perawatan Kecantikan, Bikin Anak Geram!
Viral Nenek di China Habiskan Tabungan Rp7 Miliar untuk Perawatan Kecantikan (Foto: Freepik)
A
A
A

JAKARTA - Viral nenek berusia 75 tahun di Shanghai, China, ludes setelah digunakan untuk berbagai layanan kecantikan selama bertahun-tahun. Total pengeluaran perempuan bermarga Yu tersebut disebut mencapai 3 juta yuan atau sekitar US$450.000, setara Rp7 miliar.

Kisah Yu terungkap setelah putrinya mengetahui kondisi keuangan sang ibu dan meminta bantuan melalui sebuah program televisi di Shanghai. Dari penelusuran keluarga, pengeluaran tersebut dilakukan sejak 2016 di cabang Yongqi Beauty and Hairdressing Company serta sebuah klinik kecantikan medis yang memiliki hubungan dengan Yongqi.

Selama bertahun-tahun, Yu menjalani berbagai perawatan, mulai dari pengencangan kulit, tanam benang, pijat meridian, hingga tato alis dan bibir.

Masalah muncul setelah putrinya memeriksa rincian transaksi. Sejumlah layanan yang diterima Yu disebut memiliki harga 10 hingga 20 kali lebih mahal dibandingkan harga pasar.

Salah satu tagihan yang mencolok adalah prosedur tato bibir dengan beberapa tahapan yang dibanderol 39.800 yuan atau sekitar US$6.000.

Dalam catatan pembayaran, beberapa prosedur juga tercatat dilakukan berulang kali. Untuk layanan tato, pengulangan tersebut dinilai tidak diperlukan.

Yu mengaku saat itu tidak terlalu memperhitungkan biaya perawatan. Ia merasa mampu membayar karena memiliki tabungan yang berasal dari hasil penjualan rumah.

Namun, setelah seluruh tabungan habis, kondisi ekonominya berubah drastis. Yu disebut tidak lagi mampu membayar sewa tempat tinggal dan bahkan harus menjual perhiasannya untuk memenuhi kebutuhan.

Bayar Rp700 Juta untuk Perawatan yang Tak Dilakukan

Pengeluaran Yu tidak hanya terjadi di salon. Staf Yongqi disebut merekomendasikannya ke klinik kecantikan medis bernama Rouyi.

Di klinik tersebut, Yu membayar 300.000 yuan atau sekitar US$45.000, setara Rp700 juta, untuk prosedur yang disebut sebagai “perawatan intim”.

Meski sudah membayar, prosedur tersebut ternyata tidak dilakukan. Pihak klinik kemudian menggantinya dengan layanan perawatan kulit lainnya.

Rincian tagihan dari Rouyi juga memuat sejumlah nama layanan yang tidak dapat dijelaskan Yu, termasuk “kursi kebahagiaan” dan “kapsul luar angkasa”.

South China Morning Post (SCMP) kemudian mencoba menghubungi Rouyi untuk meminta penjelasan. Namun, nomor telepon yang tercantum dalam faktur klinik tersebut dilaporkan sudah tidak aktif.

Putri Yu juga menemukan bahwa pembayaran untuk layanan di Rouyi dilakukan melalui rekening Yongqi.

Yongqi Bantah Memaksa Pelanggan

Pihak Yongqi memberikan penjelasan berbeda mengenai kasus tersebut. Seorang staf perusahaan menyatakan Yu sendiri yang meminta sejumlah prosedur dilakukan berulang kali karena mengalami “kecemasan terhadap penampilan”.

Mereka juga beralasan bahwa harga setiap layanan telah dicantumkan secara jelas. Dengan melakukan pembayaran, menurut pihak Yongqi, pelanggan dianggap telah menyetujui tarif yang berlaku.

Sebagai bentuk penyelesaian, Yongqi memberikan pengembalian sebagian uang muka yang telah dibayarkan Yu.

SCMP juga meminta keterangan lebih lanjut kepada manajemen Yongqi. Namun, pihak perusahaan menyatakan persoalan tersebut telah selesai dan tidak memberikan informasi tambahan.

Yu sendiri tidak melanjutkan persoalan tersebut melalui jalur hukum. Yongqi juga dilaporkan masih beroperasi tanpa adanya informasi mengenai penyelidikan atau penangguhan resmi terkait kasus tersebut.

Soroti Perlindungan Konsumen Lansia

Kasus yang dialami Yu turut memunculkan perhatian terhadap perlindungan konsumen lanjut usia dalam industri kecantikan.

Aturan di China mengenai pemasaran harga yang jelas dan larangan penipuan harga mengharuskan pelaku usaha menjalankan transaksi berdasarkan prinsip transparansi, keadilan, dan kejujuran.

Seorang pengamat menilai lansia memiliki hak yang sama untuk menikmati layanan kecantikan. Namun, keinginan tersebut tidak seharusnya menjadi celah bagi pelaku usaha untuk mengeksploitasi konsumen.

Pengamat lainnya mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati terhadap strategi penjualan di salon maupun klinik kecantikan, terutama ketika ditawarkan layanan tambahan yang dapat membuat total biaya perawatan meningkat secara signifikan.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement