JAKARTA - Kisah Alexander Zverev jadi salah satu petenis terbaik dunia ternyata tak selalu berjalan mulus. Jauh sebelum mengangkat trofi US Open 2026, petenis asal Jerman itu sudah menghadapi tantangan sejak masih berusia 4 tahun.
Melansir The Times of India, Zverev didiagnosis mengidap diabetes tipe 1 saat usianya 4 tahun. Kondisi tersebut membuat sejumlah dokter meragukan kemampuannya untuk menjalani olahraga kompetitif di level profesional.
Namun, Zverev tak membiarkan diagnosis tersebut menentukan masa depannya. Dengan dukungan keluarga, ia terus berlatih hingga akhirnya mampu mencapai level tertinggi tenis dunia.
Kini, perjuangannya berbuah manis. Setelah memenangkan French Open 2026, Zverev kembali meraih gelar Grand Slam dengan menjuarai US Open 2026.
Tenis sebenarnya sudah menjadi bagian dari kehidupan Zverev, bahkan sebelum ia lahir. Kedua orang tuanya, Alexander Zverev Sr. dan Irina Zvereva, merupakan mantan petenis profesional Uni Soviet.
Keluarganya kemudian pindah ke Jerman pada 1991 dan menetap di Hamburg. Zverev lahir di kota tersebut pada 1997. Kakaknya, Mischa Zverev, juga mengikuti jejak orang tua mereka dan menjadi petenis profesional.
Setelah tidak lagi aktif sebagai pemain, kedua orang tua Zverev beralih menjadi pelatih. Sang ibu memiliki peran besar dalam perkembangan teknik permainan Zverev sejak kecil, terutama dalam membentuk pukulan backhand-nya.
Latihan sejak usia dini membuat Zverev berkembang menjadi petenis dengan servis kuat dan kemampuan bertahan dalam reli panjang.
Tantangan besar datang ketika Zverev masih berusia 4 tahun. Ia didiagnosis mengalami diabetes tipe 1. Selama bertahun-tahun, Zverev memilih tak mengumbar kondisinya kepada publik. Sebagai atlet profesional, ia harus mengatur kadar gula darah dan rutin menyuntik insulin di tengah rutinitas latihan serta pertandingan yang sangat menguras fisik.
Zverev bahkan pernah merasa tak nyaman memperlihatkan kondisinya di depan penonton. Saat bertanding, ia terkadang pergi ke kamar mandi untuk menyuntikkan insulin agar tak melakukannya di hadapan orang banyak.
Namun, semuanya berubah pada 2022. Zverev akhirnya terbuka mengenai diabetes yang dialaminya sekaligus mendirikan Alexander Zverev Foundation.
Yayasan tersebut dibuat untuk membantu anak-anak yang hidup dengan diabetes dan menunjukkan bahwa penyakit tersebut tak harus menjadi penghalang untuk mengejar cita-cita.
Zverev juga mengingat bagaimana dokter pernah mengatakan bahwa dirinya tak akan bisa menjadi atlet profesional karena diabetes tipe 1. Perkataan tersebut ternyata justru menjadi salah satu sumber motivasinya.
Ia mendapat dukungan penuh dari orang tuanya yang tidak ingin penyakit tersebut membatasi impiannya.
Bukan hanya diabetes yang harus dihadapi Zverev. Pada semifinal French Open 2022, ia mengalami cedera parah ketika berhadapan dengan Rafael Nadal.
Saat mengejar bola, pergelangan kaki kanan Zverev terkilir. Ia langsung terjatuh dan harus meninggalkan lapangan menggunakan kursi roda.
Hasil pemeriksaan menunjukkan tiga ligamen di sisi luar pergelangan kaki kanannya mengalami robekan. Zverev kemudian menjalani operasi dan harus melewati proses rehabilitasi yang panjang.
Cedera tersebut terjadi ketika Zverev sedang berada di peringkat ketiga dunia dan berpeluang besar melaju ke final French Open. Alih-alih melanjutkan perjuangan merebut gelar, ia justru harus menepi selama berbulan-bulan.
Kembali ke lapangan pun bukan perkara mudah. Zverev harus membangun kembali kekuatan fisik, pergerakan, hingga rasa percaya dirinya. Namun, cedera tersebut tidak menghentikan kariernya.
Setelah melewati berbagai rintangan, Zverev akhirnya mendapatkan momen yang sudah lama dinantikannya pada 2026.
Pada Juni 2026, ia memenangkan French Open setelah mengalahkan Flavio Cobolli di final. Gelar tersebut menjadi Grand Slam pertama dalam kariernya setelah sebelumnya tiga kali gagal di final turnamen mayor.
Tak berhenti di Paris, Zverev kemudian melanjutkan penampilan impresifnya di US Open. Pada 13 September 2026, ia mengalahkan petenis Amerika Serikat Ben Shelton dalam empat set dengan skor 6-3, 7-6(2), 5-7, 6-2 di Arthur Ashe Stadium.
Kemenangan itu membuat Zverev meraih gelar Grand Slam keduanya pada tahun yang sama. Ia juga menjadi petenis putra Jerman pertama yang menjuarai US Open sejak Boris Becker pada 1989.
(Agustina Wulandari )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.