
Menurut Namira, berlari sejauh 42 kilometer bukan hanya membutuhkan kekuatan fisik. Mental juga memegang peranan penting, terutama ketika pelari mulai merasa lelah saat race day.
“Karena lari 42 kilo kan bukan cuma tentang fisik kita. Pas race day, mental kita tuh juga penting banget,” ujar Namira.
Ketika mental mulai menurun dan muncul pikiran seperti merasa terlalu lelah atau tidak mampu melanjutkan perlombaan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi performa fisik.
“Once mental kita drop, kita merasa kayak, ‘Aduh capek nih, aduh nggak bisa nih.’ Itu pasti akan ngaruh ke performa dan badan kita juga. Karena ya itulah, the power of mind,” tutur Namira.
Karena itu, menurutnya, proses mempersiapkan diri hingga menyelesaikan maraton secara tidak langsung membangun ketahanan mental. Kemampuan untuk terus berjuang ketika tubuh mulai lelah pun dapat terbawa ke kehidupan sehari-hari.
“Dengan maraton ini dia kan ngebuild supaya mental kita tuh menjadi lebih kuat. Dan itu emang beneran pengaruh ke kegiatan sehari-hari sih menurut aku,” tutupnya.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.