Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Radiasi Handphone Bisa Picu Kanker? Ini Jawaban Dokter

Mei Sada Sirait , Jurnalis-Jum'at, 28 Agustus 2026 |11:15 WIB
Radiasi Handphone Bisa Picu Kanker? Ini Jawaban Dokter
Radiasi Handphone Bisa Picu Kanker? Ini Jawaban Dokter (Foto: Freepik)
A
A
A

JAKARTA - Kekhawatiran mengenai radiasi handphone yang disebut dapat memicu kanker masih kerap muncul di tengah masyarakat. Namun, dokter menjelaskan bahwa radiasi yang dipancarkan ponsel memiliki karakteristik berbeda dengan radiasi pengion seperti sinar-X yang dapat merusak DNA.

Dokter sekaligus edukator kesehatan, Adam Prabata, membahas isu tersebut melalui akun X miliknya, @AdamPrabata. Ia menjelaskan bahwa radiasi dari handphone termasuk radiofrequency (RF) radiation yang berada dalam kategori non-ionizing radiation atau radiasi nonpengion.

Mengacu pada penjelasan National Cancer Institute (NCI), radiasi nonpengion memiliki energi yang lebih rendah sehingga tidak cukup kuat untuk merusak DNA secara langsung. Sementara itu, radiasi pengion seperti sinar-X memiliki energi lebih tinggi yang dapat menyebabkan kerusakan DNA dan meningkatkan risiko kanker.

“Jadi berdasarkan National Cancer Institute NIH, radiasi dari HP adalah non-ionizing (energi rendah), tidak bisa merusak DNA seperti sinar-X atau radiasi pengion,” tulis Adam.

Menurut Adam, efek biologis yang paling konsisten ditemukan pada manusia akibat paparan radiofrequency radiation adalah pemanasan ringan pada bagian tubuh yang berada dekat dengan ponsel. Kondisi tersebut misalnya dapat terjadi pada telinga atau kepala ketika seseorang menggunakan handphone untuk menelepon.

Meski demikian, pemanasan tersebut tidak cukup untuk meningkatkan suhu inti tubuh secara signifikan. NCI juga menyebut belum ada efek berbahaya lain yang terbukti secara konsisten akibat paparan radiofrequency radiation dari ponsel.

Hasil Penelitian

Adam turut menyoroti sejumlah penelitian yang mengkaji hubungan antara penggunaan handphone dan kanker. Beberapa studi berskala besar, termasuk Interphone dan Danish Cohort Study, tidak menemukan hubungan antara penggunaan ponsel dan peningkatan risiko kanker otak secara keseluruhan.

Penelitian COSMOS yang melibatkan lebih dari 264 ribu peserta juga tidak menemukan hubungan antara total durasi menelepon dan risiko glioma, meningioma, maupun acoustic neuroma. Temuan tersebut juga berlaku pada peserta yang memiliki riwayat penggunaan ponsel dalam jangka panjang.

Data mengenai angka kejadian kanker otak turut memberikan gambaran serupa. NCI mencatat bahwa angka kejadian sejumlah kanker otak dan sistem saraf pusat relatif stabil di beberapa negara, meskipun penggunaan ponsel mengalami peningkatan pesat.

Namun, data berdasarkan tren populasi tetap memiliki keterbatasan. Data tersebut belum tentu mampu mendeteksi kemungkinan adanya risiko yang sangat kecil atau risiko tertentu pada kelompok masyarakat tertentu.

“Enggak ada bukti kuat lain yang menetapkan efek berbahaya pada kesehatan manusia dari radiasi ini. Studi skala besar (Interphone, Danish cohort) dan tren insidens kanker otak tetap stabil meski penggunaan HP melonjak drastis saat ini,” lanjut Adam.

Meski begitu, Adam mengingatkan bahwa pembahasan mengenai hubungan radiasi ponsel dengan kanker belum sepenuhnya berakhir dalam dunia ilmiah. Salah satu rujukan yang kerap digunakan adalah International Agency for Research on Cancer (IARC), bagian dari WHO.

Pada 2011, IARC mengklasifikasikan paparan radiofrequency dari penggunaan ponsel sebagai “possibly carcinogenic to humans” atau Grup 2B.

Klasifikasi tersebut tidak berarti IARC menyatakan bahwa penggunaan ponsel telah terbukti menyebabkan kanker. NCI menjelaskan bahwa keputusan itu didasarkan pada bukti terbatas dari penelitian pada manusia dan hewan serta temuan mekanistik yang belum menunjukkan hasil konsisten.

Hubungan sebab-akibat antara penggunaan ponsel dan kanker juga belum dapat dipastikan. Karena itu, Adam menilai klaim bahwa “radiasi HP pasti menyebabkan kanker” tidak sesuai dengan kesimpulan dari sebagian besar bukti ilmiah yang tersedia saat ini.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement