JAKARTA – Anak yang masih mengompol di malam hari setelah berusia lima tahun dapat menjadi perhatian bagi orang tua. Kondisi tersebut bisa dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari kebiasaan minum, pola buang air besar, hingga kemampuan anak mengontrol kandung kemih.
Dokter Spesialis Urologi, dr. Andika Afriansyah, membagikan empat langkah yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu mengurangi kebiasaan mengompol pada anak. Tips tersebut disampaikan melalui unggahan video di akun Instagram miliknya.
Langkah pertama adalah mengatur waktu minum anak. Menurut dr. Andika, sebagian orang tua justru memberikan banyak cairan menjelang waktu tidur karena khawatir anak mengalami dehidrasi.
Padahal, kebiasaan tersebut dapat membuat asupan cairan menumpuk pada malam hari. Ia menyarankan anak mendapatkan cukup cairan sejak pagi hingga sore, kemudian membatasi minum menjelang tidur.
“Satu, saya akan minta orang tuanya untuk atur jam minum. Kebanyakan anak kebalik, siang dia lupa minum, setelah malam-malam malah konsumsi cairan berlebih. Katanya karena takut dehidrasi. Harusnya minum banyak itu dari pagi sampai sore. Menjelang tidur, direm. Terakhir minum usahakan jam 7 sampai jam 8 malam setelah makan malam,” kata dr. Andika, dikutip Sabtu (22/8/2026).
Langkah kedua adalah membangun rutinitas sebelum tidur. Orang tua dapat membiasakan anak mencuci kaki, menyikat gigi, kemudian buang air kecil sebelum naik ke tempat tidur. Kebiasaan tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi kemungkinan anak mengompol.
“Dua, pipis sebelum tidur itu wajib, bukan opsional. Rutinitasnya coba saya atur nih bareng orang tua. Coba kamu bikin ritual sebelum tidur: sikat gigi, pipis, lalu naik ke kasur, terus tidak main HP lagi. Siang hari juga jangan biarkan anak-anak nahan pipis kelamaan,” ujarnya.
Selanjutnya, orang tua perlu memperhatikan masalah buang air besar atau sembelit. Dr. Andika menjelaskan, kondisi usus yang penuh akibat penumpukan feses dapat memberikan tekanan pada kandung kemih dan berpotensi mengganggu fungsinya.
“Tiga, ini yang paling sering kelewatan: sembelit. Usus yang penuh itu nempel sama kandung kemih dan bisa mengganggu fungsinya. Jadi kalau ada anak BAB-nya keras, jarang, ngeden, atau kalau BAB gede banget, bereskan dulu masalah ini. Usahakan si anak BAB tiap hari,” kata dia.
Jika anak masih mengompol setelah menerapkan beberapa kebiasaan tersebut, orang tua dapat mempertimbangkan penggunaan alarm ngompol. Alat ini dilengkapi sensor yang akan berbunyi ketika mendeteksi tetesan urine sehingga anak dapat terbangun dan melanjutkan buang air kecil di toilet.
“Empat, kalau masih ngompol juga, kita bisa beli alarm ngompol. Suatu alat khusus, sensornya bunyi pas tetesan urin pertama keluar. Anak bangun, matikan alarm, lalu lanjut pipis di toilet,” jelas dr. Andika.
Meski demikian, dr. Andika mengingatkan orang tua agar tidak mengharapkan hasil instan. Menurutnya, terapi untuk mengatasi kebiasaan mengompol membutuhkan proses dan konsistensi.
“Ini terapi lini pertama dengan bukti sains yang cukup kuat dan risiko kambuh paling rendah. Tapi jangan berharap satu bulan langsung kering total. Biasanya terapi ini butuh 8 sampai 12 minggu, yang penting angka ngompolnya turun dari hari ke hari,” tuturnya.
Orang tua juga disarankan berkonsultasi dengan dokter apabila anak berusia lima hingga enam tahun atau lebih masih sering mengompol, terutama jika kondisi tersebut terjadi pada siang hari dan disertai keluhan lain.
“Dan kalau anak sudah 5 sampai 6 tahun ke atas masih ngompol terus, apalagi siangnya juga ngompol, ada pipis yang sakit, susah keluar, dan haus berlebih, silakan konsultasi segera ke dokter urologi,” pungkasnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.