SUDAH giat berolahraga dan menjalani diet ketat, tapi lipatan lemak di area perut bawah tetap saja tak kunjung menghilang? Fenomena ini ternyata bukan sekadar perasaan semata.
Ada penjelasan medis di baliknya. Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Adam Prabata dalam unggahan di akun Instagramnya pun menjelaskan penyebab lemak perut bawah susah hilang.

dr. Adam menjelaskan bahwa proses penurunan berat badan secara umum memang akan mengurangi kadar lemak di seluruh tubuh. Namun, secara biologis, ada beberapa area tubuh yang memiliki jenis lemak lebih bandel dan sulit untuk dihilangkan dibanding area lainnya.
“Memang secara umum, bila kita mengurangi kalori, maka kita akan mengurangi lemak secara keseluruhan. Tapi, ternyata ada emang bener ada loh bagian lemak di tubuh yang lebih bandel,” ujar dr. Adam.
dr. Adam mengungkapkan bahwa kunci utama dari proses pelepasan lemak (dalam istilah medis disebut lipolisis) diatur oleh hormon yang bernama katekolamin. Hormon ini bekerja dengan cara mengikat dua jenis reseptor utama yang berada di dalam sel lemak.
“Proses pelepasan lemak (lipolisis) di tubuh diatur oleh hormon katekolamin. Katekolamin ini mengikat dua jenis reseptor utama di sel lemak,” ungkap dia.
Reseptor pertama adalah beta adrenergik yang bertugas merangsang terjadinya lipolisis untuk melepaskan lemak. Sementara itu, reseptor kedua adalah alpha-2 adrenergik, yang justru memiliki fungsi sebaliknya, yaitu menghambat lipolisis atau menahan lemak tetap tersimpan.
“Antara lain reseptor beta adrenergik, merangsang lipolysis (melepaskan lemak). Reseptor alpha-2 adrenergik, menghambat lipolysis (menahan lemak),” tutur dr. Adam.
Menurutnya, keberadaan reseptor alpha-2 adrenergik inilah yang membuat beberapa bagian tubuh menjadi area yang paling sulit menipis saat menjalani program penurunan berat badan.
“Nah ada area-area yang memang reseptor alpha-2 adrenergiknya lebih tinggi yaitu di perut bawah, payudara, dan bokong, sehingga sinyal pelepasan lemak lebih sulit terjadi di sana,” lanjut dia.

Tak hanya faktor dominasi reseptor penghambat, dr. Adam juga menyoroti kendala sirkulasi darah di area-area lemak membandel tersebut. Menurutnya, sirkulasi darah di area perut bawah cenderung lebih rendah dibanding bagian tubuh lainnya.
“Bahkan aliran darah di area lemak tersebut lebih rendah, sehingga hormon katekolamin lebih sulit mencapai sel lemaknya,” kata dr. Adam.
Kombinasi antara tingginya reseptor alpha-2 adrenergik dan rendahnya aliran darah inilah yang membuat lemak di perut bawah menjadi bagian tubuh paling terakhir yang menyusut.
Lantas, bagaimana cara mengatasinya? dr. Adam menegaskan bahwa kunci utama untuk menaklukkan lemak bandel ini terletak pada konsistensi dan kombinasi latihan yang tepat.
“Akibatnya area perut bawah ini menjadi bagian terakhir yang menipis. Perlu defisit kalori yang konsisten sekaligus latihan otot agar tubuh terpaksa mengambil lemak dari lokasi yang lebih sulit tersebut,” pungkas dia.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.