Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

5 Alasan Layar Ponsel Bisa Bikin Kulit Kusam

Agustina Wulandari , Jurnalis-Selasa, 18 Agustus 2026 |10:05 WIB
5 Alasan Layar Ponsel Bisa Bikin Kulit Kusam
Ilustrasi main ponsel. (Foto: dok Magnific/tirachardz)
A
A
A

JAKARTA - Di antara penggunaan ponsel, laptop, dan kebiasaan scrolling tanpa henti, pastinya setiap orang bisa menghabiskan berjam-jam menatap layar. Sebagian orang mungkin sudah tahu bahwa kebiasaan ini bisa membuat mata lelah dan memengaruhi postur tubuh. Tapi, apakah layar juga bisa berdampak pada kulit?

Ada anggapan bahwa cahaya dari layar dapat menyebabkan kerutan, kulit kusam, dan munculnya bintik hitam. Namun, apakah hal ini benar atau hanya kekhawatiran yang berlebihan? Yuk, cari tahu. 

Kok Bisa Layar Digital Merusak Kulit?

Melansir The Times of India, penelitian klinis menunjukkan bahwa penggunaan layar digital dapat memberikan dampak pada kulit. Risiko utamanya berkaitan dengan seberapa dekat layar dengan wajah dan berapa lama menggunakannya.

Jika kamu memegang layar hanya beberapa sentimeter dari wajah selama 6–8 jam sehari, kulit bisa mengalami stres oksidatif tingkat rendah secara terus-menerus.

1. Mempercepat Kerusakan Kolagen

Perangkat digital memancarkan cahaya biru yang secara ilmiah dikenal sebagai High-Energy Visible (HEV) Light. Berbeda dengan sinar ultraviolet (UV) yang terutama memengaruhi lapisan permukaan kulit, cahaya biru memiliki panjang gelombang sekitar 380–500 nanometer sehingga dapat menembus lebih dalam hingga mencapai lapisan dermis kulit.

Ketika cahaya biru masuk ke jaringan kulit, cahaya ini dapat menghasilkan Reactive Oxygen Species (ROS) atau spesies oksigen reaktif. Kondisi tersebut memicu stres oksidatif dan mengaktifkan enzim seperti matrix metalloproteinase-1 (MMP-1).

Enzim ini dapat memecah serat kolagen dan elastin pada kulit sekaligus memperlambat pembentukan kolagen baru. Kerusakan struktur tersebut dapat menyebabkan tanda-tanda penuaan muncul lebih cepat, seperti garis halus, kerutan, dan berkurangnya elastisitas kulit. 

2. Memicu Produksi Melanin Berlebih

Kalau kamu mengalami hiperpigmentasi atau melasma yang sulit diatasi, cahaya biru bisa menjadi salah satu pemicunya.

Cahaya tampak dapat mengaktifkan reseptor khusus pada sel penghasil pigmen yang disebut opsin-3. Reseptor ini mengenali cahaya biru-keunguan dan kemudian memberi sinyal kepada kulit untuk memproduksi melanin, bahkan tanpa paparan sinar UV.

Pigmentasi akibat cahaya biru terutama berpotensi memengaruhi orang dengan kadar melanin kulit yang lebih tinggi, yaitu tipe kulit Fitzpatrick III–VI. Sementara itu, efek tersebut kemungkinan lebih kecil terjadi pada orang dengan kulit sangat terang atau tipe I dan II. 

3. Mengganggu Siklus Tidur

Selain berpotensi memengaruhi kulit secara langsung, cahaya biru juga dapat mengganggu ritme sirkadian dengan menghambat pelepasan melatonin, yaitu hormon yang berperan dalam mengatur tidur.

Kurang tidur dapat mengganggu proses pemulihan alami kulit yang berlangsung pada malam hari. Akibatnya, berbagai tanda penuaan bisa terlihat semakin jelas dan kulit dapat tampak kusam, lelah, serta mengalami dehidrasi. 

4. Membuat Leher Terus Menekuk

Kebiasaan menundukkan kepala berulang kali saat melihat layar ponsel dapat memberikan tekanan pada kulit leher.

Kulit leher jauh lebih tipis dan memiliki lebih sedikit kelenjar minyak dibandingkan kulit wajah. Ketika kepala terus berada dalam posisi menunduk, tekanan mekanis pada jaringan kulit yang lebih rapuh tersebut membuat kulit terlipat pada garis yang sama selama berjam-jam.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat menyebabkan garis horizontal pada leher muncul lebih cepat, kulit di sekitar rahang bawah mengendur, serta elastisitas kulit leher berkurang.

Menurut dr. Chetna Chhabra, General Physician and Cosmetologist, leher sering menjadi salah satu area pertama yang menunjukkan tanda penuaan dini karena lapisan dermisnya bisa hingga 45 persen lebih tipis dibandingkan kulit wajah dan memiliki lebih sedikit kelenjar sebaceous untuk menjaga kelembapan.

Menundukkan kepala pada sudut 45 atau 60 derajat juga dapat meningkatkan beban gravitasi pada otot dan kulit leher hingga sekitar 50–60 pon.

Untuk mencegah garis akibat gerakan berulang berubah menjadi kerutan permanen, usahakan memegang perangkat sejajar dengan mata. Jangan lupa memperluas rutinitas perawatan kulit hingga ke tulang selangka, terutama penggunaan pelindung matahari dan pelembap yang kaya peptida.

5. Kontak Langsung dan Gesekan dengan Kulit

Menempelkan layar ponsel yang kotor langsung ke wajah saat menelepon atau scrolling juga dapat memengaruhi kondisi kulit.

Layar ponsel dapat menjadi tempat berkumpulnya bakteri, minyak, dan sisa makeup. Ketika perangkat yang hangat ditempelkan ke pipi, gesekan kecil yang terjadi secara terus-menerus dapat menyebabkan acne mechanica, yaitu jerawat yang muncul akibat gesekan dan tekanan.

Kondisi tersebut, ditambah lingkungan mikro yang lembap dan tertutup, dapat mendorong bakteri di permukaan kulit masuk ke pori-pori. Akibatnya, pori-pori bisa tersumbat, terjadi peradangan lokal, dan muncul jerawat di sekitar tulang pipi serta garis rahang. 

Benarkah Layar Ponsel Jadi Penyebabnya?

Sebelum buru-buru membuang ponsel, penting untuk memahami seberapa besar paparan cahaya yang sebenarnya kita terima.

Sebuah penelitian komprehensif yang dilakukan oleh Kepala Ilmuwan Fotobiologi Beiersdorf menunjukkan bahwa intensitas cahaya biru buatan dari layar sebenarnya sangat kecil jika dibandingkan dengan cahaya matahari alami.

Bahkan, berada di depan monitor selama satu minggu penuh tanpa jeda dengan jarak sekitar 30 sentimeter dari layar menghasilkan paparan cahaya biru yang setara dengan hanya satu menit berada di luar ruangan pada hari musim panas yang cerah.

Jadi, meskipun mekanisme biologis yang berkaitan dengan kerusakan akibat cahaya biru memang nyata, cahaya matahari yang masuk melalui jendela rumah atau pencahayaan LED di dalam ruangan justru menjadi sumber paparan cahaya tampak yang jauh lebih kuat dibandingkan layar laptop.

Layar ponsel tidak akan membuat kulitmu tiba-tiba menua dalam semalam. Namun, paparan cahaya biru dari lingkungan modern yang banyak menggunakan perangkat digital dan menghabiskan waktu di dalam ruangan dapat terakumulasi seiring waktu.

Dengan menambahkan tabir surya berwarna dan antioksidan ke dalam rutinitas perawatan kulit, serta menggunakan perangkat dengan lebih bijak, kamu bisa membantu menjaga kulit tetap terlindungi, cerah, dan sehat di tengah kehidupan yang semakin bergantung pada teknologi. 

(Agustina Wulandari )

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement