JIKA membicarakan soal teh, kamu pasti lebih familiar dengan teh hijau dan hitam. Kini, ada jenis teh yang tak kalah hits di kalangan masyarakat Indonesia.
Teh tersebut adalah oolong teh. Jenis teh ini sangatlah unik karena punya cita rasa yang tak pernah sama.

Dilansir dari Tea Tulia, teh oolong bukanlah teh hitam dan bukan pula teh hijau. Oolong memiliki kategori tersendiri dalam dunia teh.
Namun, karakteristiknya bisa lebih mendekati teh hitam atau teh hijau. Jenis teh oolong tergantung pada bagaimana seorang tea master mengolah daun teh tersebut.
Dalam proses pembuatan teh oolong, teh hitam dibiarkan mengalami oksidasi secara penuh. Proses ini membuat daun teh berubah menjadi lebih gelap dan menghasilkan aroma khas yang kaya dan sedikit menyerupai malt.
Sementara itu, teh hijau hampir tidak mengalami oksidasi. Karena itu, daunnya tetap mempertahankan sebagian warna hijau alaminya serta cita rasa segar seperti daun yang baru dipetik.
Teh oolong berada di antara keduanya dan sering disebut sebagai teh yang mengalami oksidasi sebagian (partial oxidation). Namun, tingkat oksidasi oolong dapat sangat bervariasi, mulai dari sekitar 8% hingga 80%, tergantung pada gaya produksi yang digunakan oleh tea master.
Itulah sebabnya karakter rasa oolong juga bisa sangat beragam. Oolong dengan tingkat oksidasi rendah cenderung memiliki karakter yang segar dan ringan seperti teh hijau, sedangkan oolong dengan oksidasi lebih tinggi dapat memiliki cita rasa yang lebih kaya, dalam, dan malty seperti teh hitam.
Perbedaan utama antara teh oolong dan teh hitam atau teh hijau terletak pada tingkat oksidasi dan bentuk daunnya. Secara tradisional, daun teh oolong digulung, dipelintir, atau dikerutkan hingga membentuk bola-bola kecil yang padat atau helaian daun yang tipis dan memanjang.
Teknik pembentukan daun ini merupakan bagian dari keterampilan seorang tea master. Biasanya, oolong mengikuti tradisi pengolahan teh di daerah asalnya.
Proses penggulungan memiliki peran penting karena dapat memengaruhi penampilan, warna, dan aroma daun teh yang dihasilkan. Bahkan, cara dan waktu daun digulung selama proses produksi dapat memberikan pengaruh terhadap karakter akhir teh, termasuk arah cita rasa yang dihasilkan.

Oolong merupakan salah satu contoh nyata dari keahlian dan seni dalam pengolahan teh. Penampilan, bentuk, serta cita rasa teh oolong dapat sangat berbeda, tergantung pada daerah tempat teh tersebut ditanam dan bagaimana daun tehnya diproses.
Asal-usul oolong sering dikaitkan dengan China dan Taiwan, dan hingga saat ini teh oolong masih memiliki posisi yang sangat istimewa dalam budaya teh di kedua negara tersebut.
Ada sebuah cerita yang menyebutkan bahwa masyarakat China memberikan nama “wulong”, yang berarti “naga hitam”, untuk menyebut daun teh berukuran besar dan berwarna gelap. Daun tersebut mengalami oksidasi cukup tinggi dan bentuknya yang berpilin dianggap menyerupai naga dalam mitologi China.
Cerita lainnya mengisahkan seorang petani teh bernama Wu Liang, yang kemudian namanya disingkat menjadi Wulong. Konon, ia menemukan gaya pengolahan oolong secara tidak sengaja.
Setelah seharian memetik daun teh, sang petani terdistraksi dan meninggalkan daun teh yang sedang dilayukan. Ketika kembali, ia mendapati daun-daun tersebut sudah mulai mengalami oksidasi.
Terlepas dari cerita mana yang benar, satu hal yang tidak diragukan adalah bahwa beberapa oolong China yang paling terkenal berasal dari daerah pegunungan tinggi dengan medan berbatu dan cuaca yang sejuk.
Geografi dan kondisi lingkungan yang khas tersebut berperan besar dalam menghasilkan cita rasa kaya yang menjadi ciri khas oolong dari wilayah tersebut.
Untuk benar-benar memahami teh oolong, kita perlu memahami terlebih dahulu bagaimana teh diproses. Pada dasarnya, semua jenis the, baik teh hitam, hijau, maupun oolong, berasal dari tanaman yang sama, yaitu Camellia sinensis.
Perbedaan yang kita rasakan di dalam cangkir bukan semata-mata ditentukan oleh jenis tanamannya. Ada banyak faktor yang memengaruhinya, antara lain varietas atau kultivar tanaman the, terroir atau karakteristik lingkungan tempat tanaman tumbuh, termasuk kondisi geografis, iklim, dan budaya setempat, hingga cara daun teh diproses setelah dipetik.
Kombinasi dari berbagai faktor inilah yang pada akhirnya menentukan warna, aroma, bentuk, karakter, serta cita rasa teh yang sampai ke dalam cangkir Anda. Dengan kata lain, teh oolong bukan sekadar “teh di antara teh hijau dan teh hitam”. Oolong merupakan hasil dari proses pengolahan yang sangat terampil, di mana tingkat oksidasi, teknik pembentukan daun, lingkungan tempat teh tumbuh, dan keahlian tea master semuanya berperan dalam menciptakan karakter akhir sebuah teh.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.