Ancaman ini makin nyata karena ketahanan hidup bakteri Leptospira di luar tubuh induknya terbilang cukup tangguh. Lingkungan tropis seperti jalanan basah atau genangan air menjadi media yang sangat mendukung bakteri ini untuk bertahan hidup dalam waktu lama.
"Dan bakteri ini bisa bertahan berminggu-minggu di tanah lembap atau genangan. Dan penyakitnya enggak main-main loh. Namanya leptospirosis. Dan dia masuk lewat luka kecil di kulit, kulit yang lecet, atau selaput lendir. Nggak perlu luka besar," ungkapnya.
Leptospirosis sendiri bukanlah sekadar infeksi ringan. Penyakit zoonosis ini memiliki rekam jejak yang cukup mengerikan di Indonesia dan patut diwaspadai oleh siapa saja yang kerap beraktivitas di luar rumah.
"Data Kemenkes di tahun 2020 nyatet ada 1.170 kasus di Indonesia dengan 106 kematian. Artinya, sekitar 1 dari 11 penderita enggak selamat," kata Bang Sap.
Tingginya angka fatalitas ini salah satunya dipicu oleh sulitnya mendeteksi penyakit sejak dini. Gejala awal leptospirosis kerap menipu karena sangat mirip dengan penyakit ringan yang lazim dialami masyarakat sehari-hari.
"Yang bikin makin repot, gejalanya nyamar demam, pusing, badan lemas, mirip flu biasa. Yang agak khas cuma satu: nyeri hebat di betis sampai susah jalan. Karena mirip flu, banyak yang salah ditangani. Dan kalau telat, dia bisa ngerusak ginjal dan hati," tuturnya.