APAKAH kamu mengalami kondisi tangan, telapak kaki, atau beberapa titik tubuh lainnya mudah berkeringat bahkan dalam jumlah yang banyak dan tensi yang tinggi? Jika pernah, kamu mengalami hiperhidrosis.
Kondisi tersebut sering kali membuat penderita disorot oleh orang lain yang berinteraksi dan merasa heran dengan kondisinya. Hiperhidrosis sendiri dinilai atau dianggap oleh masyarakat secara umum sebagai gejala penyakit jantung atau lebih spesifiknya adalah lemah jantung.
Hal tersebut masih menjadi perdebatan hingga saat ini. Ada anggapan tersebut kerap kali membuat penderita merasa dijustifikasi tanpa landasan medis dan menimbulkan rasa takut.

Padahal, secara medis anggapan itu hanyalah mitos belaka yang berkeliaran di tengah masyarakat. Hal itu diungkapkan oleh dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Tirta Mandiri Hudhi dalam unggahan video di akun Instagramnya.
dr. Tirta menjelaskan bahwa kondisi hiperhidrosis terjadi akibat aktivitas saraf simpatis yang berlebihan seperti fight atau flight. Hal itu membuat beberapa bagian distal seperti telapak tangan dan kaki menghasilkan keringat berlebih.
"Itu mitos ya. Jadi hiperhidrosis itu adalah sebuah kondisi ketika aktivitas saraf simpatisnya berlebihan. Jadi salah satu aktivitas saraf simpatis itu adalah fight or flight. Dan salah satu impact-nya itu adalah di bagian distal kita, kayak telapak tangan, telapak kaki, itu akan berkeringat dingin,” kata dr. Tirta.
dr. Tirta menuturkan bahwa anggapan hiperhidrosis sebagai indikasi lemah jantung akibat kondisinya yang hampir mirip dengan gejala serangan jantung. Saat seseorang mengalami serangan jantung akan merasakan nyeri hebat di bagian regio kiri dan menjalar ke seluruh tubuh hingga mengeluarkan keringat dingin.
“Dikarenakan serangan jantung itu salah satu gejalanya yang parah itu adalah dia ada nyeri hebat di bagian kiri, regio kiri, dan dia menjalar dari bahu, punggung, sampai lengan, sampai telapak tangan. Nah, saking nyerinya, itu sampai keringat dingin,” ucap dia.
Itulah mengapa orang awam atau masyarakat secara umum menganggap bahwa hiperhidrosis merupakan tanda penyakit lemah jantung.
“Nah, karena hal ini orang-orang awam tahunya, 'Wah, ini nyeri terus keringat dingin', akhirnya muncullah telapak tangan keringat dingin sama dengan sakit jantung. Itu kalau jawabannya. Tetapi kalau dikatakan hiperhidrosis adalah lemah jantung, itu mitos,” tegas dia.
Di sisi lain, dr. Tirta mengungkapkan bahwa pada penderita hiperhidrosis yang sudah terlalu mengganggu aktivitas, keringat yang dikeluarkan bisa sangat banyak. dr. Tirta menyarankan agar penderita yang sudah mencapai tahap tersebut untuk berkonsultasi dengan dokter penyakit dalam atau dokter saraf.
“Nah, ketika misalkan hiperhidrosis itu terlalu mengganggu, itu tangan bisa basah banget pol. Dan itu akhirnya membuat harus datang ke dokter penyakit dalam atau dokter saraf, butuh dicek. Karena kalau misalkan mengganggu banget, misalkan sampai netes-netes gini, ya itu harus dicek, cuman bukan merupakan gejala penyakit jantung,” pungkas dia.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.