JAKARTA — Diet bebas gluten semakin populer di kalangan masyarakat yang ingin menerapkan pola hidup sehat. Meski awalnya ditujukan bagi penderita penyakit celiac atau intoleransi gluten, pola makan ini kini banyak diikuti oleh orang tanpa kondisi medis tertentu. Lantas, benarkah membatasi asupan gluten memberikan manfaat bagi semua orang?
Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Tirta Mandira Hudhi, dalam unggahan video di kanal YouTube miliknya mengungkapkan bahwa membatasi konsumsi gluten dapat memberikan manfaat bagi kesehatan jika dilakukan secara tepat. Menurutnya, konsumsi gluten secara berlebihan dalam jangka panjang berpotensi berkaitan dengan proses inflamasi kronis di dalam tubuh.
Catatan EYD: Hindari klaim bahwa gluten pasti bermanfaat untuk semua orang. Lebih tepat menggunakan frasa "berpotensi berkaitan" atau "diduga berkaitan" karena bukti ilmiah untuk masyarakat umum masih beragam.
"Gini, kebanyakan gluten di dalam tubuh itu ternyata sangat erat kaitannya seperti kebanyakan gula di dalam tubuh. Jadi dampaknya bisa mengganggu sistem inflamasi kronis di masa yang akan datang," kata dr. Tirta.
Ia menjelaskan bahwa paparan gluten dan gula secara berlebihan selama bertahun-tahun diduga dapat meningkatkan risiko inflamasi kronis. Menurutnya, sejumlah penelitian, termasuk studi kohort dan meta-analisis, telah mengkaji hubungan tersebut.
"Dan itu penelitiannya kohort dulu kalau enggak salah. Terus akhirnya diteliti lagi lewat meta-analisis, ternyata tegak. Bahwa semakin banyak paparan gluten dan gula yang dimakan oleh tubuh manusia dalam jumlah berlebih bertahun-tahun, itu ternyata meningkatkan risiko penyakit kronis. Makanya buat orang-orang dibatasilah si gluten ini," tambahnya.
dr. Tirta menuturkan bahwa perkembangan teknologi di bidang penelitian kesehatan memungkinkan para peneliti menelusuri faktor-faktor yang berkaitan dengan munculnya berbagai penyakit, termasuk kemungkinan hubungan antara pola makan tinggi gluten dengan sejumlah kondisi kesehatan tertentu.
"Lho, kok bisa ketahuan? Ya namanya juga teknologi. Kok muncul sih penyakit alergi baru-baru, ternyata setelah dicek cohort kan metode mundur, oh ternyata orang-orang ini dilihat riwayatnya makan gluten dalam bentuk berlebihan. Jadi betul sebenarnya pembatasan gluten itu sangat bagus. Enggak jelek kok," tuturnya.
Meski demikian, ia mengakui bahwa menjalani pola makan gluten-free maupun clean eating umumnya membutuhkan biaya lebih tinggi sehingga belum tentu mudah diterapkan oleh semua kalangan.
"Tapi mahal. Makanya aku bilang, privilege makanan sehat dan bersih itu semakin terasa kalau orangnya kaya raya. Tapi kalau orang finansialnya terbatas, mana kepikiran dia makan gluten, apa saja yang mengenyangkan. Sementara orang kaya berpikir apa saja makanan yang menyehatkan," ungkapnya.
Lebih lanjut, dr. Tirta menilai pilihan makanan sering kali dipengaruhi kondisi ekonomi. Karena itu, ia mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan diri mengikuti tren diet tertentu apabila justru membebani kondisi finansial.
"Beda sudah konotasinya. Orang superkaya, makanan apa yang aneh-aneh menyehatkan dan beda sama yang lain. Jadi semakin kaya seseorang, dia semakin punya alternatif pilihan untuk makan makanan yang enak dan bergizi. Jadi enggak apa-apa diet sehat itu bagus asal sesuai dengan kantong kalian," pungkasnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.