Ketika penggunaan obat dihentikan dan fungsi ereksi kembali menurun, kondisi itu bukan disebabkan tubuh mengalami ketergantungan, melainkan karena penyakit atau faktor yang memicu gangguan ereksi masih terus berlangsung.
"Kalau misalnya kita minum obat ereksi hasilnya bagus, tetapi ketika kita stop kemudian turun lagi, itu sebetulnya menunjukkan ada akar penyebab gangguan ereksi yang tidak tertangani. Misalnya, aliran darah memang terbantu saat minum obat. Tetapi ketika berhenti, sementara gula darah tidak terkontrol, tekanan darah naik, atau hormon testosteron rendah, maka fungsi ereksi akan melemah lagi," jelasnya.
Menurut dr. Jefry, beberapa gangguan metabolik dan hormonal seperti diabetes, hipertensi, serta rendahnya kadar hormon testosteron menjadi penyebab utama disfungsi ereksi, terutama pada pria lanjut usia. Jika gaya hidup tidak diperbaiki dan penyakit penyerta tidak dikendalikan, fungsi ereksi dapat kembali menurun meski sebelumnya sempat membaik dengan bantuan obat.
Karena itu, ia menekankan pentingnya mencari dan mengatasi akar penyebab gangguan ereksi melalui pemeriksaan medis, bukan hanya mengandalkan obat untuk mengatasi gejalanya.
"Biasanya kalau akar penyebabnya ditangani lebih awal, fungsi ereksinya akan jauh lebih baik. Makanya sangat penting mengontrol penyebab gangguan ereksi. Kalau itu sudah teratasi dan kondisinya stabil, biasanya fungsi ereksi akan membaik dan kita tidak perlu mengonsumsi obat ereksi dalam jangka panjang," pungkas dr. Jefry.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.