JAKARTA - Kalau bicara soal busana wanita Indonesia, pasti ada satu nama yang langsung terlintas di kepala, kebaya. Dahulu, mungkin sempat ada anggapan bahwa kebaya itu busana yang kuno, kaku, atau hanya cocok dipakai saat acara adat dan resepsi pernikahan saja.
Namun, coba lihat sekarang! Kebaya telah berevolusi menjadi busana yang sangat modis, kekinian, dan sukses mencuri perhatian dunia. Bagaimana ceritanya busana warisan leluhur ini bisa "naik kelas" dari pakaian tradisional hingga menjadi primadona di kancah internasional?
Yuk, mengenal perjalanan kebaya!
Sebelum melenggang ke panggung busana modern, kebaya memiliki sejarah yang sangat panjang. Konon, kata "kebaya" berasal dari bahasa Arab, yakni abaya yang berarti pakaian. Ada juga yang menyebutkan bahwa kebaya mendapat pengaruh dari budaya Tiongkok dan Portugis yang datang ke Nusantara pada berabad-abad silam.
Pada awalnya, kebaya adalah pakaian yang identik dengan perempuan keraton atau kaum bangsawan. Memakainya pun tidak sembarangan; ada pakem dan aturan tertentu, lengkap dengan lilitan kain stagen yang membuat postur tubuh perempuan terlihat tegak dan anggun. Kebaya bukan sekadar penutup tubuh, melainkan simbol kelembutan, kesabaran, dan keanggunan perempuan Nusantara.
Berjalannya waktu membuat kebaya semakin merakyat dan membaur dengan berbagai budaya. Pada masa kolonial Belanda, para perempuan Eropa yang tinggal di Hindia Belanda mulai ikut mengenakan kebaya yang terbuat dari kain katun ringan karena cuaca tropis yang panas.
Dari sinilah muncul berbagai variasi kebaya, seperti: