Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Istilah Kacang Lupa Kulitnya dari Kacamata Psikologi, Ternyata Berhubungan dengan Kesehatan Mental

Niko Prayoga , Jurnalis-Senin, 20 Juli 2026 |15:14 WIB
Istilah Kacang Lupa Kulitnya dari Kacamata Psikologi, Ternyata Berhubungan dengan Kesehatan Mental
Istilah Kacang Lupa Kulitnya dari Kacamata Psikologi, Ternyata Berhubungan dengan Kesehatan Mental (Foto: Freepik)
A
A
A

JAKARTA — Ungkapan "kacang lupa kulitnya" selama ini dikenal sebagai sindiran bagi seseorang yang melupakan orang-orang yang pernah membantunya. Namun, dari sudut pandang psikologi, perilaku tersebut ternyata tidak hanya berdampak pada hubungan sosial, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis.

Dokter sekaligus konten kreator kesehatan, dr. Aditya Surya Pratama, menjelaskan bahwa rasa syukur (gratitude) merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga kesehatan mental. Melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya, ia menegaskan bahwa keberhasilan seseorang hampir tidak pernah diraih seorang diri, melainkan melibatkan dukungan dari banyak pihak.

"Pas dia susah, kamu yang paling depan bantu. Tapi begitu dia berhasil, kamu malah dianggap enggak pernah ada. Padahal, dalam hidup itu hampir tidak ada orang yang berhasil sendirian. Pasti selalu ada keluarga, teman, pasangan, mentor, atau bahkan orang asing yang pernah memberi kesempatan," kata dr. Aditya.

Penelitian Psikologi

Menurutnya, mengabaikan atau melupakan kontribusi orang lain dapat berdampak negatif terhadap kualitas hubungan sosial. Sebaliknya, berbagai penelitian psikologi menunjukkan bahwa membiasakan diri untuk bersyukur dan menghargai peran orang lain berkaitan erat dengan tingkat kebahagiaan serta kesehatan mental yang lebih baik.

"Dalam ilmu psikologi, rasa syukur atau gratitude itu bukan sekadar sopan santun. Ada penelitian yang menunjukkan bahwa kemampuan mengingat dan menghargai bantuan orang lain berkaitan dengan hubungan sosial yang lebih sehat dan kesejahteraan psikologis yang lebih baik," jelasnya.

Secara klinis, orang yang secara konsisten mempraktikkan rasa syukur cenderung memiliki tingkat stres yang lebih rendah, emosi yang lebih stabil, serta ketahanan mental (resilience) yang lebih baik dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.

Sebaliknya, ketika seseorang terjebak dalam sikap egosentris dan menganggap seluruh keberhasilannya semata-mata merupakan hasil usahanya sendiri, hubungan sosial berisiko mengalami keretakan. Menurut dr. Aditya, perasaan diabaikan oleh orang yang pernah dibantu juga dapat meninggalkan luka emosional yang sulit dilupakan.

"Sebaliknya, ketika seseorang selalu fokus pada dirinya sendiri dan mengabaikan kontribusi orang lain, hubungan yang dulu dekat bisa perlahan merenggang. Karena orang mungkin lupa apa yang kita berikan, tetapi mereka jarang lupa bagaimana mereka dihargai atau diabaikan," pungkas dr. Aditya.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement