KEPERGIAN komedian senior Tanah Air, Simson Rarameha Ngadang atau akrab disapa Temon, menyisakan duka mendalam bagi masyarakat. Diketahui, Temon meninggal karena serangan jantung.
Temon sendiri diketahui punya riwayat hipertensi. Lantas, seberapa berbahayanya hipertensi bagi jantung?

Almarhum Temon dikabarkan memiliki riwayat penyakit darah tinggi sebelum mengembuskan napas terakhirnya. Temon disebut meninggal akibat serangan jantung.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah sekaligus influencer kesehatan, dr. Muhammad Fajri Adda'I, dalam unggahan video di akun Instagramnya mengatakan bahwa hipertensi secara teori merupakan salah satu pemicu utama yang sangat kuat di balik fatalnya serangan jantung.
“Yang jelas, hipertensi secara teori memang dapat menyebabkan faktor risiko kuat untuk terjadi serangan jantung, bahkan sampai meninggal," kata dr. Fajri.
Banyak orang kerap mengabaikan hipertensi karena gejalanya yang sering kali tidak kasat mata. Padahal, tekanan darah yang tidak terkontrol selama bertahun-tahun secara perlahan akan merusak dinding pembuluh darah.
dr. Fajri mengungkapkan hipertensi berdasarkan data ilmiah mampu meningkatkan risiko serangan jantung hingga 2,8 kali lipat dibandingkan dengan mereka yang memiliki tekanan darah normal. Bahkan, data menunjukkan bahwa orang yang terkenal serangan jantung 50 persen memiliki riwayat hipertensi.
"Jadi orang yang punya yang punya serangan jantung nih, 50% history nya tuh pasti punya darah tinggi. Kemudian kalau orang punya darah tinggi saat ini, dalam waktu 10 tahun itu risiko dia serangan jantung nanti 10 persen,” ujar dr. Fajri.
“Artinya dari 100 orang mungkin 10 orang akan jadi serangan jantung gitu. Dalam waktu 30 tahun itu 20 sampai 40 persen. Jadi kalau ada 100 orang hipertensi saat ini, 20 tahun sampai 30 tahun lagi itu dia serangan jantung risikonya,” lanjutnya.

Meski demikian, risiko mengerikan ini sebenarnya bisa ditekan secara signifikan. Pengendalian tekanan darah secara optimal melalui deteksi dini dan perubahan gaya hidup terbukti ampuh menurunkan komplikasi kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah) secara bermakna.
Mengingat stroke dan serangan jantung masih menduduki posisi sebagai penyebab kematian tertinggi di dunia, dr. Fajri mengingatkan pentingnya mengelola faktor risiko lain secara menyeluruh.
"Pentingnya kita bisa menjaga serangan jantung penyebab kematian tertinggi di dunia, stroke dan serangan jantung. Jaga kolesterol, gula, obesitas, olahraga, dan stres. Kalau punya darah tinggi harus dikontrol,” pungkas dia.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.