KERAM otot ternyata tidak boleh dipijat sembarangan. Salah cara yang dilakukan, hal ini malah bisa berbahaya.
Karena itu, penting mengetahui cara benar atasi keram otot. Apalagi, keram otot sering dialami banyak orang, terutama saat atau setelah melakukan aktivitas fisik yang berat.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah sekaligus influencer kesehatan, dr. Muhammad Fajri Adda’i dalam unggahan video di akun Instagram pribadinya mengatakan bahwa keram otot terjadi akibat adanya kontraksi involunter atau kontraksi yang terjadi dengan sendirinya tanpa perintah dari tubuh.
“Jadi, dia berkontraksi sendiri gitu. Gak kita suruh, dia kontraksi involunter namanya," kata dr. Fajri.
Menurutnya, kondisi tersebut dipicu oleh overstimulasi dari refleks yang ada di tulang belakang akibat kelelahan otot yang berlebihan (overuse). Dalam kondisi normal, tubuh memiliki mekanisme gas dan rem untuk mengatur pergerakan otot.
Secara fisiologis, kontraksi otot distimulasi oleh muscle spindle (berperan sebagai gas), lalu diteruskan ke lengkung tulang belakang. Ketika stimulasi sudah berlebihan, tubuh akan mengeluarkan inhibisi atau penahan yang disebut organ tendon golgi yang berperan sebagai rem. Namun, ketika tubuh sudah terlalu lelah, sistem kendali ini mengalami gangguan.
“Nah, kalau sudah kecapekan, overstimulasi, jadi organ tendon golginya ini enggak bekerja nih inhibisinya, enggak ngerem. Jadi, mau gas terus. Makanya lengkung refleksnya jadi overstimulasi. Jadi, kedut-kedut terus padahal nggak ada itu stimulasinya," jelas dia.

Dalam kondisi tersebut, dr. Fajri menegaskan agar tidak memijat bagian otot yang mengalami keram. Hal itu justru dapat memperburuk kondisi atau memicu cedera yang lebih parah. Ia menyarankan, langkah pertama yang paling tepat adalah meluruskan atau meregangkan bagian tubuh yang keram.
“Nah, makanya pengobatannya adalah kalau orang kram itu bukan dipijit-pijit, enggak boleh, malah bahaya. Dilempengin kakinya nih, dilurusin. Kalau dilurusin, itu stimulasi dari organ tendon golgi tadi itu menjadi meningkat. Sehingga, direm terus kan. Sehingga, kedutannya berkurang, sehingganya nyerinya kramnya berkurang. Itu tuh makanya kalau orang kram kan dilempengin kakinya tuh," terang dr. Fajri.
Lebih lanjut, dr. Fajri membagikan 5 langkah solusi yang harus dilakukan saat seseorang mengalami keram otot. Di antaranya menghentikan aktivitas berat yang sedang dilakukan, meluruskan atau regangkan area kaki (atau otot lain) yang sedang mengalami keram, segera minum air dan penuhi kebutuhan elektrolit setelah keram mulai reda.
Selain itu, berikan waktu bagi tubuh untuk pulih, jangan langsung memaksakan diri untuk melanjutkan aktivitas berat. Kamu juga perlu pastikan tubuh mendapatkan asupan natrium, kalium, dan mineral penting lainnya.
Untuk menghindari terjadinya keram otot kembali, dr. Fajri mengingatkan terkait batasan kemampuan fisik masing-masing dan menghindari olahraga yang terlalu ekstrem. Manajemen waktu olahraga dan istirahat (rest day) yang seimbang memegang peranan krusial.
Selain faktor kelelahan, aspek lingkungan seperti cuaca panas dan kelembaban udara juga harus diperhatikan. Sebab, hal ini mempengaruhi keluarnya keringat dan cairan tubuh.
“Terus, cukupi hidrasi, pikirkan aspek panas, kelembaban udara supaya panas keluar, dan cukupi kebutuhan natrium, kalium, klorida, dan lain sebagainya. Itu yang penting. Jadi, pencegah lebih baik dibanding kena masalah," pungkas dia.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.