JAKARTA – Kemudahan mengakses kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) membuat banyak orang mulai menggunakannya untuk mencari informasi kesehatan, bahkan meminta diagnosis berdasarkan gejala yang dirasakan. Padahal, AI tidak dapat menggantikan pemeriksaan dokter dan penggunaan yang keliru justru berpotensi menimbulkan dampak yang membahayakan.
Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Aditya Surya Pratama, mengatakan terlalu sering berkonsultasi mengenai gejala penyakit kepada AI dapat menimbulkan risiko karena jawaban yang diberikan belum tentu akurat. Bahkan, respons AI bisa memicu kecemasan hingga membuat seseorang salah mengambil keputusan terkait kesehatannya.
"Kalau kita iseng tanya AI, misalnya, 'Saya pusing dan kesemutan di tangan kiri, apakah gejala stroke?' AI biasanya memberikan jawaban yang sangat panjang. Masalahnya, diagnosis yang muncul justru bisa membuat kita ketakutan. Hati-hati, kebiasaan bertanya soal gejala penyakit ke AI seperti ini bukannya membuat sembuh, tetapi justru bisa membawa kita pada bahaya yang tidak disadari," kata dr. Aditya, dikutip Jumat (10/7/2026).
Ia menjelaskan, dalam dunia teknologi dikenal istilah AI hallucination, yaitu kondisi ketika AI memberikan jawaban yang terdengar sangat meyakinkan, tetapi sebenarnya tidak akurat atau bahkan keliru. Meski dilatih menggunakan data dalam jumlah besar, AI tidak memiliki kemampuan melakukan penilaian klinis secara langsung terhadap pasien.
"AI tidak bisa melakukan palpasi atau pemeriksaan fisik. AI juga tidak bisa mendengarkan suara paru-paru menggunakan stetoskop maupun mengetahui riwayat genetik spesifik seseorang secara nyata," jelasnya.
Lebih lanjut, dr. Aditya mengungkapkan bahwa dampak paling berbahaya dari kebiasaan mendiagnosis diri melalui AI adalah efek psikologis yang ditimbulkan. Jawaban yang kurang tepat dapat membuat seseorang menunda pemeriksaan medis yang sebenarnya penting atau justru mengalami cyberchondria, yaitu kecemasan berlebihan akibat mencari diagnosis penyakit sendiri melalui internet.
"Dampaknya ada dua. Pertama, kita bisa panik berlebihan terhadap penyakit yang sebenarnya ringan. Kedua, yang lebih berbahaya, kita justru merasa tenang karena AI mengatakan hanya kelelahan, padahal tubuh sedang memberikan sinyal kondisi darurat yang membutuhkan penanganan dokter saat itu juga," ujarnya.
Karena itu, dr. Aditya mengingatkan agar AI digunakan sebagai sumber informasi awal, bukan sebagai dasar untuk menegakkan diagnosis medis. Jika mengalami keluhan kesehatan, masyarakat tetap disarankan berkonsultasi langsung dengan tenaga medis agar mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.