JAKARTA - Beberapa tahun belakangan ini, minyak kelapa (coconut oil) seolah naik kasta. Dari yang tadinya cuma dipakai untuk menggoreng atau perawatan rambut, tiba-tiba minyak ini dipuja-puja sebagai makanan super (superfood) yang konon ampuh menurunkan berat badan.
Melansir The Standard, banyak orang yang rela mencampurkan minyak kelapa ke dalam kopi pagi mereka atau meminumnya langsung dengan harapan lemak di tubuh cepat luntur. Tapi, tunggu dulu! Benarkah minyak kelapa seajaib itu? Yuk, bongkar tiga mitos utamanya!
Faktanya, tidak ada yang namanya makanan atau minuman ajaib untuk menurunkan berat badan, termasuk minyak kelapa. Banyak orang percaya mitos ini karena minyak kelapa mengandung MCT (Medium-Chain Triglycerides), yaitu jenis lemak yang katanya lebih cepat dicerna dan diubah menjadi energi, bukan disimpan sebagai lemak tubuh. Masalahnya, minyak kelapa di pasaran mayoritas mengandung asam laurat, yang proses pencernaannya di dalam tubuh tidak secepat MCT murni.
Selain itu, jangan lupa bahwa minyak kelapa adalah lemak murni. Satu sendok makan saja mengandung sekitar 120 kalori. Kalau kamu terus-terusan menambahkannya ke dalam makanan atau minuman tanpa mengurangi asupan kalori dari sumber lain, berat badanmu justru akan naik, bukan turun!
Ternyata, minyak kelapa punya kandungan lemak jenuh yang sangat tinggi, lho! Kalau kamu membandingkan minyak kelapa dengan minyak zaitun atau minyak kanola, profil lemaknya sangat berbeda. Sekitar 80 hingga 90 persen kandungan minyak kelapa adalah lemak jenuh.
Angka ini bahkan lebih tinggi dibandingkan lemak pada mentega atau lemak sapi. Mengonsumsi lemak jenuh terlalu banyak sudah terbukti secara medis dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) di dalam darah. Jadi, mengganti semua minyak di dapurmu hanya dengan minyak kelapa justru bisa menjadi bumerang bagi kesehatan jangka panjang.
Ini adalah salah kaprah yang cukup berbahaya. Karena minyak kelapa sering dipasarkan sebagai produk nabati yang alami, banyak yang mengira minyak ini aman untuk jantung.