Ira mencontohkan, seseorang yang berkata, "Karena aku laki-laki, aku berhak mengontrol pasanganku," atau "Karena aku yang mencari nafkah, aku berhak melarang dan mengatur hidupmu," menunjukkan pola pikir yang termasuk dalam toxic masculinity.
"Nah, itu yang menjadi toxic masculinity. Peran maskulinnya dijadikan sebagai alat untuk mengontrol dan mengendalikan orang lain, yang mungkin dirasa lebih inferior atau lebih lemah dibandingkan dirinya," jelas Ira.

Menurut Irawati, maskulinitas yang sehat justru tidak diukur dari seberapa besar seseorang mampu mendominasi orang lain. Sebaliknya, maskulinitas yang sehat tercermin dari kemampuan menghargai pasangan, mengendalikan emosi, bertanggung jawab, serta membangun hubungan yang setara dan saling menghormati.
Memahami konsep toxic masculinity menjadi penting agar masyarakat tidak keliru memaknai peran laki-laki. Dengan memahami batas antara kepemimpinan yang sehat dan perilaku yang mengontrol, diharapkan hubungan dalam keluarga maupun lingkungan sosial dapat terjalin dengan lebih aman, setara, dan bebas dari kekerasan.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.