JAKARTA – Jeroan dan daging merah kerap masuk daftar makanan yang harus dihindari oleh penderita asam urat. Tidak sedikit orang percaya bahwa konsumsi kedua jenis makanan tersebut dapat memicu lonjakan kadar asam urat dalam darah. Lantas, benarkah anggapan tersebut atau hanya sekadar mitos?
Dokter sekaligus edukator kesehatan, dr. Tirta Mandira Hudhi, menjelaskan bahwa hubungan antara konsumsi jeroan, daging merah, dan peningkatan kadar asam urat memang memiliki dasar ilmiah yang kuat. Menurutnya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kedua jenis makanan tersebut mengandung purin dalam jumlah cukup tinggi.
Jeroan dan daging merah diketahui mengandung beragam makro dan mikronutrien yang dibutuhkan tubuh, termasuk protein. Namun, keduanya juga mengandung purin, senyawa yang berperan dalam pembentukan adenin dan guanin sebagai bagian dari ATP (adenosine triphosphate) serta DNA. Dalam proses metabolisme purin, tubuh akan menghasilkan zat sisa berupa asam urat.
“Jadi, dari berbagai jurnal, jeroan dan daging merah itu mengandung banyak makro dan mikronutrien yang dibutuhkan oleh tubuh. Selain protein, jeroan dan daging merah ini juga mengandung zat yang bernama purin,” kata dr. Tirta.
Meski sering dianggap berbahaya, dr. Tirta menjelaskan bahwa asam urat sebenarnya memiliki fungsi penting bagi tubuh. Dalam kadar normal, senyawa ini berperan sebagai antioksidan dan memiliki efek antiinflamasi.
Masalah baru muncul ketika organ hati tidak mampu memproses dan membuang hasil metabolisme tersebut secara optimal. Akibatnya, kadar asam urat dalam darah meningkat dan memicu kondisi yang dikenal sebagai hiperurisemia.
“Cuma ternyata asam urat juga masih berguna sebagai zat antiinflamasi jika kadarnya sesuai. Namun, kalau fungsi organ hati tidak optimal, proses pembuangan atau clearance asam urat dari tubuh bisa terganggu sehingga kadarnya menjadi berlebih,” jelasnya.
Lebih lanjut, dr. Tirta menegaskan bahwa sumber purin tidak hanya berasal dari jeroan dan daging merah. Sejumlah makanan laut (seafood) juga mengandung purin yang cukup tinggi dan berpotensi meningkatkan kadar asam urat jika dikonsumsi berlebihan.
Karena itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan metabolisme tubuh, salah satunya melalui aktivitas fisik secara rutin. Menurutnya, kadar asam urat yang tinggi sering ditemukan pada individu dengan obesitas, kelebihan berat badan (overweight), maupun kelompok usia lanjut yang fungsi metabolismenya mulai menurun.
“Ya, salah satunya dengan olahraga. Itulah alasan mengapa orang yang kadar asam uratnya tinggi biasanya mengalami obesitas atau overweight. Kondisi ini juga sering terjadi pada usia lanjut karena metabolisme dan kerja enzim di hati mulai menurun,” pungkasnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.