SINGAPURA - Ruangan gelap perlahan menelan cahaya saat perjalanan dimulai dari kapal riset canggih OceanXplorer. Suara komunikasi ilmuwan dan peralatan penelitian mengiringi penyelaman menuju kedalaman samudra.
Pengalaman itulah yang dihadirkan ArtScience Museum di kompleks resor terpadu Marina Bay Sands, Singapura, melalui pameran Into the Ocean: Journey Beneath. Pameran hasil kolaborasi dengan OceanX tersebut dibuka sejak 6 Juni 2026. Pengunjung diajak menembus wilayah laut yang selama ini nyaris tak tersentuh manusia.
Memasuki area pameran, pengunjung seolah berada dalam misi eksplorasi sungguhan. Perjalanan dimulai dari kapal selam OceanX menuju berbagai lapisan laut. Zona Photic, Twilight, dan Aphotic menghadirkan karakter ekosistem berbeda. Cahaya perlahan menghilang seiring bertambahnya kedalaman penyelaman. Berbagai makhluk laut berpendar muncul dari kegelapan yang nyaris tak berujung.
Director of Programmes, Exhibitions and Museum Services ArtScience Museum Marina Bay Sands, Adrian George, mengatakan, laut dalam masih sangat sedikit dipahami manusia. Menurut dia, pameran ini berupaya mendekatkan dunia tersebut kepada publik.
"Kami ingin membuka dunia itu dengan cara yang terasa nyata," ujarnya.
Kolaborasi dengan OceanX menghadirkan pengalaman berbasis penelitian dan penemuan nyata. Karena itu, pengunjung tidak hanya menikmati visual, tetapi juga memahami pentingnya laut bagi kehidupan.
Pendiri dan Co-CEO OceanX, Mark Dalio, menilai, pengalaman langsung mampu meningkatkan kepedulian terhadap laut. Ia mengatakan, pendidikan akan lebih efektif ketika publik dapat merasakan objek pembelajaran.
"Orang melindungi apa yang mereka pahami," katanya.
Oleh sebab itu, pameran ini memadukan sains, teknologi, dan narasi eksplorasi. Harapannya, pengunjung pulang dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang masa depan laut.
Pameran ini menampilkan karya seniman dari berbagai negara. Di antaranya bit.studio dari Thailand dan Jana Winderen dari Norwegia. Ada pula Marshmallow Laser Feast dari Inggris dan Marco Barotti dari Italia.
Salah satu instalasi utama adalah Invisible Ocean karya Sissel Tolaas. Karya tersebut menerjemahkan kondisi laut menjadi pengalaman berbasis indera penciuman.
Pada zona Photic, pengunjung mempelajari terumbu karang Singapura berusia sekitar 8.000 tahun. Sampel tersebut berasal dari Cyrene Reef, Pulau Semakau, dan Pulau Hantu.
Selanjutnya, zona Twilight menampilkan visualisasi arus laut yang mengatur iklim bumi. Zona Aphotic menghadirkan spesimen langka dan rekaman eksklusif kehidupan laut dalam. Kemudian perjalanan berakhir di area Resurface yang berfokus pada restorasi ekosistem laut.
Selain pameran utama, ArtScience Museum juga menggelar Sustainable Futures Film Festival. Festival berlangsung mulai 12 Juni hingga 31 Agustus 2026. Sebanyak 12 film diputar gratis di ArtScience Cinema.
Program ini membahas ilmu kelautan, perubahan iklim, dan hubungan manusia dengan alam. Film unggulan yang ditayangkan antara lain A Life Illuminated (2025) dan Blue Carbon: Nature's Hidden Power (2023).
Pameran Into the Ocean: Journey Beneath berlangsung hingga 1 November 2026. Melalui perpaduan seni, sains, dan teknologi, pengalaman ini menawarkan cara baru memahami samudra. Namun pameran tersebut tidak berhenti pada kekaguman semata.
Pengunjung juga diajak melihat keterkaitan laut dengan kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya, perjalanan ke dasar samudra itu menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga bumi dari permukaan hingga kedalaman yang tak terlihat.
(Agustina Wulandari )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.