“Otak kita belajar dari pengalaman. Jika kita terbiasa minum kopi saat butuh fokus, maka lama-kelamaan aroma kopi sama dengan saatnya jadi lebih fokus. Akibatnya, hanya dengan mencium aromanya saja, otak sudah bersiap meskipun kafein belum masuk ke tubuh,” ungkap dr. Gia.
Meski demikian, ia menyarankan agar seseorang tetap mengkonsumsi kopi sebagai asupan kafein jika memang tubuh membutuhkan kekuatan untuk melawan rasa kantuk.
“Aroma kopi memang bisa membantu tubuh lebih rileks dan memberi efek awal pada fokus dan kewaspadaan. Namun, untuk efek "melek" yang maksimal, tetap dibutuhkan kafein yang benar-benar dikonsumsi,” tuturnya.
Dari berbagai fakta efek aroma kopi di atas, ia menilai bahwa ketenangan dan fokus dari aroma kopi bukanlah sebuah sugesti melainkan respons biologis dari tubuh.
“Jadi, kalau kamu merasa lebih segar hanya dengan mencium kopi itu bukan sekadar sugesti. Itu kombinasi antara respons biologis, memori, dan ekspektasi otak,” ujar dr. Gia.
(Agustina Wulandari )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.