Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengenal Brain Rot, Fenomena yang Bisa Muncul jika Terlalu Sering Ketawa karena Konten Receh

Niko Prayoga , Jurnalis-Sabtu, 30 Mei 2026 |07:05 WIB
Mengenal Brain Rot, Fenomena yang Bisa Muncul jika Terlalu Sering Ketawa karena Konten Receh
Mengenal fenomena brain rot. (Foto: Freepik)
A
A
A

DI era media sosial seperti sekarang, konten receh yang absurd, random, dan bikin ngakak memang jadi hiburan favorit banyak orang. Mulai dari meme kocak, video “skibidi”, hingga tren suara aneh yang terus terngiang di kepala, semuanya terasa sulit dilewatkan saat scrolling TikTok atau Instagram.

Namun di balik hiburan tersebut, muncul istilah baru yang sedang viral di internet, yaitu brain rot. Fenomena apakah ini? Mari mengenal brain rot lebih jauh dalam artikel ini.

Kerap Ketawa Sambil Menangis! Waspadai Gangguan Saraf Pseudobulbar Affect

1. Fenomena Brain Rot

Fenomena brain rot menggambarkan kondisi ketika seseorang terlalu sering mengonsumsi konten receh hingga dianggap memengaruhi fokus, cara berpikir, bahkan kemampuan berkonsentrasi sehari-hari. Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia, Profesor Agustino Zulys, dalam unggahan video di akun instagramnya menjelaskan, brain rot bukanlah penyakit resmi dalam dunia medis.

Namun, hal tersebut merupakan sebuah fenomena nyata. Brain rot adalah kondisi di mana kemampuan berpikir menurun karena terlalu sering mengonsumsi konten cepat, receh atau dangkal. Bahkan tak jarang, konten seperti itu dianggap sarana hiburan untuk menghilangkan stres dengan cara cepat.

“Secara istilah, brain rot itu pembusukan otak. Bukan penyakit resmi, tapi fenomena nyata. Artikel ilmiah menunjukkan brain rot dapat menyebabkan penurunan kemampuan berpikir karena terlalu banyak konsumsi konten receh, cepat, dan dangkal. Bahkan, sekarang dianggap sebagai genre hiburan,” kata Prof. Zulys, dikutip Sabtu (30/5/2026).

Ia menjelaskan, dopamin yang dihasilkan dari menonton konten receh bisa menimbulkan lonjakan dopamin secara terus menerus hingga akhirnya menyebabkan kecanduan digital. Padahal, otak manusia dirancang untuk berpikir mendalam.

“Masalahnya, konten brain rot itu super cepat, penuh kejutan, jadi timbul lonjakan dopamin terus-menerus. Hasilnya, otak memberi sinyal, kalau mau senang, scroll lagi. Terbentuk kecanduan digital,” jelas dia.

 

2. Lemahnya Daya Ingat

Kerap Ketawa Sambil Menangis! Waspadai Gangguan Saraf Pseudobulbar Affect

Jika brain rot ini terjadi, fokus perhatian akan rusak dan bisa menyebabkan lemahnya daya ingat. Akhirnya seseorang yang mengalami brain root tidak kuat melihat tontonan dengan durasi lebih dari satu menit m.

“Rentang fokus perhatian rusak, tidak tahan nonton video lebih dari 1 menit, dan daya ingat melemah. Informasi tidak masuk ke ingatan panjang. Sulit membuat keputusan, sering jadi lebih reaktif, kurang reflektif,” tutur Prof. Zulys.

Tak main-main, dampak dari brain rot sendiri cukup berbahaya. Selain menurutnya fokus, brain rot juga bisa membuat gangguan emosi dan meningkatkan depresi. Bahkan dalam jangka waktu yang cukup lama bisa mengganggu perkembangan kecerdasan.

“Apa dampaknya? Ini yang paling berbahaya. Karena otak masih berkembang, dampaknya sulit fokus belajar, cepat bosan, ketergantungan gajet, gangguan emosi, bahkan risiko depresi meningkat. Dalam jangka panjang, bisa mengalami gangguan perkembangan kecerdasan,” pungkas dia.

(Djanti Virantika)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement