KASUS Hantavirus kembali menjadi sorotan global setelah munculnya klaster infeksi di sebuah kapal pesiar internasional, yakni MV Hondius, yang berangkat dari wilayah Amerika Selatan. Wabah ini memicu perhatian karena dikaitkan dengan Andes virus, salah satu jenis Hantavirus yang diketahui memiliki tingkat keparahan tinggi dan potensi penularan antarmanusia secara terbatas.
Menarik kini mengetahui lebih jauh soal varian dari Hantavirus. Dengan begitu, varian yang lebih berbahaya pun bisa diketahui.

Dr Dicky Budiman PhD yang merupakan Epidemiologist and Expert in Global Health Security from Griffith and Yarsi University dalam acara Morning Zone di Youtube Okezone menjelaskan varian pada Hantavirus. Menurutnya, Hantavirus merupakan kelompok virus yang ditularkan melalui hewan pengerat, terutama tikus, dan memiliki beberapa jenis dengan karakteristik yang berbeda.
Dua di antaranya yang paling sering dibahas adalah Andes Virus dan Seoul Virus, yang sama-sama berada dalam keluarga Hantavirus. Namun, ada tingkat bahaya, pola penularan, serta wilayah sebaran yang berbeda dari dua varian ini.
“Ada beberapa jenis (Hantavirus) yang saat ini di dunia, lebih dikenal ada 2. Kalau yang di kapal pesiar itu Andes Virus masih keturunan Hantavirus,” ujar Dr. Dicky.
Andes Virus tergolong lebih berbahaya dibandingkan jenis lainnya karena memiliki potensi penularan antarmanusia, meskipun masih terbatas. Andes virus banyak ditemukan di Amerika Selatan, terutama di Chile dan Argentina.
Virus ini dapat menyebabkan gangguan serius pada sistem pernapasan. Termasuk dalam hal ini, kerusakan paru-paru, hingga komplikasi pada jantung yang berujung pada gagal napas akut.
Kemampuan penularan antarmanusia inilah yang membuat Andes Virus dianggap lebih berisiko dalam situasi tertentu. Meskipun, kasusnya tidak sebanyak jenis lain.
“Kenapa Andes Virus ini dikenal? Karena punya karakteristik ditemukannya di Amerika Selatan, terutama di Chile dan Argentina, dia (Andes Virus) juga bisa menyebabkan gangguan di paru-paru, bahkan potensi ke jantung, gagal napas akut. Juga termasuk angka kematiannya bisa 40-50 persen. Jadi dari 10 (kasus), 4 atau 5 orang akan meninggal,” ujar Dr Dicky.
“Nah yang membuat Andes Virus ini unik karena ada bukti potensi penularan antar manusia, meskipun itu terbatas. Makanya, yang terjadi di kapal pesiar itu, jadi di dalam konteks ini, hanya Andes Virus ini yang punya perbedaan kemampuan menularkan antarmanusia,” lanjutnya.

Berbeda dengan Andes, Seoul Virus lebih banyak ditemukan di kawasan Asia, termasuk China, Korea, hingga Indonesia. Virus ini umumnya dibawa oleh tikus perkotaan yang hidup di lingkungan padat, seperti saluran air, gudang, hingga area dengan sanitasi buruk.
“Ada satu lagi yang ini juga selain di China, di Korea, dan beberapa negara Asia lain, termasuk Indonesia, namanya Seoul Virus masih keluarga Hantavirus,” ujar Dr Dicky.
“Nah karakteristik dari Seoul Virus ini, dia umumnya di tikus-tikus perkotaan. Ini adanya di Lorong-lorong gelap, di rumah-rumah, nah makanya tidak boleh ada lubang-lubang. Makanya tikus-tikus itu suka tempat yang gelap-gelap,” lanjutnya.
Di Indonesia, Seoul Virus dianggap lebih relevan. Pasalnya, kondisi lingkungan perkotaan yang masih memiliki tantangan sanitasi. Meski demikian, tingkat kematian Seoul Virus disebut lebih rendah dibandingkan Andes Virus.
“Nah di Indonesia, tipe Seoul Virus lebih relevan karena urbanisasi. Kita sekarang sudah banyak orang, apalagi daerah perkumuhan, sampah kurang tertata baik, padat penduduk, sanitasi buruk, nah ini populasi tikus perkotaan ini akan meningkat. Nah ini yang berpotensi kalau kita kontak secara langsung atau tidak langsung, itu bisa menyebabkan demam, potensi gangguan ginjal juga, dan juga yang disebut dengan hemorrhagic fever jadi gelaja seperti demam berdarah,” jelasnya.
“Tapi angka kematiannya umumnya lebih rendah ketimbang Andes tadi. Ini umumnya di angka belasan. Ini juga ditemukan oleh Kemenkes di angka 13-an persen angka kematiannya,” lanjut Dr Dicky.

Dr Dicky pun menegaskan bahwa penularan Hantavirus, khususnya Seoul Virus, umumnya terjadi melalui lingkungan yang terkontaminasi kotoran tikus. Partikel virus dapat menyebar melalui udara atau menempel pada permukaan benda.
Karena adanya risiko tersebut, masyarakat Indonesia tetap perlu waspada. Risiko Hantavirus bisa ditekan dengan menjaga kebersihan lingkungan, terutama di area yang rawan menjadi sarang tikus.
“Nah tapi kritikal poinnya adalah Indonesia lebih berisiko dengan paparan Seoul Virus yang lebih sporadic tapi, bukan yang Andes yang berpotensi menularkan antarmanusia itu walupun terbatas,” tuturnya.
“Yang penting disadari oleh publik adalah bagaimana penularannya itu karena kita seringkali ada di daerah yang mungkin sampah, gudang, di mana ada kotoran tikus itu, nah kita terhirup dari aerosol yang tercemar dari partikel urin atau kotoran tikus tadi. Atau kontak langsung dengan kontaminasi tadi dan kemudian menyentuh hidung mata atau mulut. Karena kalau gigitan tikus kan jarang ya, paling jarang lagi makanan yang terkontaminasi,” tegas Dr Dicky.
“Sekali lagi, kita ini berisiko. Makanya rumah jangan jadi sarang tikus, gudang, apalagi sekarang sering banjir kan. Ini yang membuat kotoran tikusnya menyebar ke mana-mana,” pungkasnya.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.