Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kartini yang Kita Lewatkan

Opini , Jurnalis-Senin, 20 April 2026 |21:16 WIB
Kartini yang Kita Lewatkan
Ilustrasi
A
A
A

Dalam kerangka itu, pendidikan ditempatkan sebagai jalan pembebasan, bukan sekadar sarana untuk meningkatkan status. Perempuan tidak dibayangkan sebagai pelengkap, melainkan sebagai subjek yang turut menentukan arah perubahan.

Namun, dalam praktik peringatan hari ini, gagasan sebesar itu sering kali hadir dalam bentuk yang lebih ringan. Kartini tetap dirayakan, tetapi dalam versi yang lebih mudah diterima: simbolis, representatif, dan tidak terlalu menuntut tafsir. Ada semacam kenyamanan dalam merayakan Kartini tanpa harus berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan.

Di sini, ironi kecil sulit dihindari. Semakin kuat simbol dihadirkan, semakin longgar kebutuhan untuk memahami. Perayaan berjalan dengan baik, tradisi tetap terjaga, tetapi sebagian persoalan yang dahulu digelisahkan Kartini masih tetap menyertai kehidupan kita: ketimpangan yang belum selesai, beban yang belum seimbang, dan ruang yang belum sepenuhnya setara. Dalam suasana seperti itu, merayakan yang mudah menjadi pilihan yang wajar—meski bukan tanpa konsekuensi.

Kerja sebagai Makna

Jika pada bagian sebelumnya kita melihat kecenderungan “merayakan yang mudah”, maka pertanyaan berikutnya menjadi lebih mendasar: bagaimana seharusnya Kartini dihidupkan hari ini?

Konsep “perempuan modern” yang ditulis Kartini memberi arah yang cukup jelas. Perempuan modern tidak berhenti pada pendidikan atau pekerjaan, melainkan menjadikan kerja sebagai bentuk kontribusi sosial. Kemandirian bukan tujuan akhir, melainkan dasar untuk memberi dampak bagi masyarakat luas. Modernitas, dengan demikian, tidak berhenti pada capaian pribadi, tetapi bergerak ke arah tanggung jawab sosial.

Gagasan ini tidak sulit ditemukan dalam kehidupan Indonesia hari ini, meskipun sering kali tidak hadir dalam seremoni. Dalam politik, Megawati Soekarnoputri memperlihatkan bagaimana keteguhan terhadap konstitusi dan ideologi negara tetap dijaga di tengah dinamika kekuasaan yang tidak selalu stabil. Di panggung global, Retno Marsudi menempatkan Indonesia dalam percakapan internasional sebagai Menteri Luar Negeri perempuan pertama, bukan sekadar sebagai simbol, tetapi sebagai aktor diplomasi yang diperhitungkan. 

Sementara itu, di bidang ekonomi, Sri Mulyani Indrawati menunjukkan bahwa pengelolaan negara bukan hanya soal angka, tetapi juga arah dan keberpihakan kebijakan. Namun, wajah perempuan modern tidak selalu berada di pusat kekuasaan. Di pedalaman Papua, dr. Maria Louisa Rumateray—yang akrab disebut “dokter terbang”—justru menghadirkan makna yang lebih sunyi, tetapi mendasar. Dengan menjangkau masyarakat adat yang tidak tersentuh akses jalan, kerja medis berubah menjadi bentuk keberpihakan yang konkret.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement